TOMBAKOPINI: I.A.B.
Bang, seruput dulu kopinya. Pelan-pelan saja. Pagi ini perjalanan saya menuju Medan. Berangkat dari rumah pukul 04.00 WIB dinihari. Tujuannya bukan jalan-jalan, apalagi berburu diskon. Saya mau menghadiri acara wisuda anak.
Kalau anak wisuda, hati orang tua biasanya campur aduk. Ada bangga, haru, sekaligus sedikit merasa tua. Dulu mengantar anak sekolah, sekarang mengantar ke wisuda. Rupanya perjalanan orang tua seperti kopi. Makin lama, makin terasa hasilnya.
Dalam perjalanan, saya singgah di SPBU Pertamina 14 224 356, Jalan Tarutung–Padangsidimpuan No. 25, Sitolu Ompu, Kecamatan Pahae Jae, Tapanuli Utara, dekat Sarulla. Maksud awal sederhana: numpang ke toilet.
Di area SPBU ada Indomaret. Sekalian saya masuk. Rencananya mau mengisi kartu e-toll. Kata kasir, tidak tersedia. Ya sudah. Kalau e-toll tidak jadi diisi, mata pun mulai mencari sesuatu untuk dibeli.
Namanya masuk minimarket, niat awal sering kalah dengan rak. Jalan sedikit, lihat ini. Jalan lagi, lihat itu. Akhirnya mata berhenti pada kerupuk amplang tenggiri.
Di rak tertulis: Rp11.000.
Saya ambil satu bungkus. Bawa ke kasir. Bayar. Selesai.
Baru setelah melihat struk, dahi saya ikut naik.
Rp19.200!
Lho?
Saya sampai berpikir, jangan-jangan amplangnya ikut perjalanan dari Tapanuli Utara menuju Medan. Harganya juga ikut naik kendaraan?
Harga di rak Rp11.000, sedangkan di struk Rp19.200. Selisih Rp8.200 atau sekitar 74,5 persen. Ini bukan lagi selisih harga secangkir kopi. Lumayan kalau dipakai beli gorengan satu piring.
Saya tidak mau buru-buru menyebut ini penipuan. Bisa saja label harga di rak belum diperbarui. Bisa saja terjadi kesalahan sistem. Bisa juga ada penjelasan lain dari pihak gerai.
Tetapi konsumen tetap berhak bertanya.
Mengapa yang terlihat Rp11.000, tetapi ketika dibayar menjadi Rp19.200?
Yang membuat saya makin bertanya, istri saya ternyata pernah mengalami kejadian serupa di gerai Indomaret lainnya.
Kalau sekali, mungkin kesalahan. Kalau terjadi di tempat berbeda, wajar kalau konsumen mulai bertanya-tanya.
Ibarat warung kopi, di meja tertulis kopi Rp10 ribu. Setelah diminum, ketika bayar tiba-tiba Rp18 ribu.
Pelanggan tentu bertanya, “Bang, ini kopi atau cicilan?”
Di sinilah pentingnya keterbukaan harga.
Jaringan minimarket sebesar Indomaret tentu punya tanggung jawab besar memastikan harga di rak dan harga di kasir sesuai. Konsumen tidak meminta harga murah terus. Konsumen hanya ingin harga yang jelas.
Kalau memang Rp19.200, tulislah Rp19.200.
Kalau Rp11.000, ya bayar Rp11.000.
Jangan sampai harga di rak dan harga di kasir seperti dua saudara sedang bertengkar. Yang satu bilang sebelas ribu, yang satu ngotot sembilan belas ribu dua ratus.
Akhirnya konsumen yang bingung.
Pagi itu saya sebenarnya sedang menuju Medan untuk menghadiri wisuda anak. Saya ingin membawa pulang kebahagiaan melihat anak menyelesaikan pendidikannya.
Ternyata perjalanan itu memberi pelajaran lain: konsumen tidak takut membayar mahal. Yang ditakutkan adalah membayar sesuatu yang harganya tidak sesuai dengan yang terlihat.
Bang, kerupuk amplangnya sudah habis dimakan.
Tapi pertanyaannya jangan ikut habis.
Harga yang benar sebenarnya yang mana?
Jangan sampai kejadian seperti ini, menjadi modus pembohongan terencana pada konsumen di abad ini, Bang!












