Muhamad Heru Priono
“Di dalam kehidupan manusia, terdapat pepatah yang telah melambangkan semangat kebangkitan dan ketahanan selama berabad-abad: patah satu tumbuh seribu. Pepatah ini mengajarkan kita bahwa meskipun kita menghadapi kegagalan, kehilangan, atau kesulitan yang tampak tak teratasi, selalu ada harapan untuk memulai lagi dan tumbuh lebih kuat. Namun, di balik semangat kebangkitan ini, terdapat pesan yang lebih dalam yang seringkali terlupakan: JAMERAH (jangan sampai melupakan sejarah). Sejarah adalah akar yang menopang pertumbuhan kita, adalah cermin yang menunjukkan jalan yang telah dilalui, dan adalah panduan yang mencegah kita terjebak dalam kesalahan yang sama. Tanpa mengenang sejarah, “patah satu tumbuh seribu” hanya akan menjadi kata kata kosong, gagah tanpa makna, dan pertumbuhan yang kita raih akan tidak kokoh dan mudah runtuh”
TOMBAKOPINI :
Didalam lingkaran perkumpulan, terdapat sosok-sosok yang tidak hanya menjadi bagian dari struktur organisasi, melainkan lebih seperti benang pembenah yang menyatukan setiap untaian perjuangan, impian, dan sejarah lembaga. Mereka adalah orang-orang yang telah melihat lembaga dari masa-masa kelam di mana segalanya masih kosong dan tidak pasti, yang telah meraba-raba jalan di tengah kegelapan, dan yang telah mencurahkan air mata, keringat, bahkan sebagian jiwa mereka untuk menjadikan lembaga yang dulu hanya sebuah gagasan menjadi kenyataan yang hidup dan berkembang. Ketika sosok semacam ini keluar dari perkumpulan, terjadilah kekosongan yang tidak dapat diisi oleh siapa pun, bahkan tidak dengan sepuluh orang baru yang baru saja bergabung. Kekosongan ini bukan hanya tentang posisi atau tugas yang ditinggalkan, melainkan tentang kehadiran yang penuh makna, pengalaman yang tidak ternilai, dan ikatan emosional yang telah terjalin seiring waktu.
Bayangkan sebuah perkumpulan yang baru saja didirikan, dengan hanya beberapa orang yang memiliki semangat yang sama namun tanpa peta yang jelas. Di antara mereka, ada seseorang yang selalu berada di depan: yang pertama kali tiba di lokasi pertemuan, yang selalu punya ide ketika semua orang bingung, yang tidak ragu untuk mengorbankan waktu liburnya untuk mengurus urusan lembaga, dan yang tetap tabah bahkan ketika semua orang lain ingin menyerah. Dia adalah orang yang tahu nama setiap anggota awal, yang ingat setiap kesalahan yang pernah dibuat dan pelajarannya, yang menyimpan kenangan tentang setiap keberhasilan kecil yang pernah diraih bersama. Setiap sudut gedung tempat perkumpulan berkumpul, setiap dokumen yang pernah dibuat, setiap acara yang pernah diadakan – semuanya menyimpan jejak kehadirannya. Dia tidak hanya mengingat apa yang telah terjadi, melainkan dia menjadi bagian dari apa yang telah terjadi. Ketika dia keluar, lembaga tidak hanya kehilangan seorang pengurus atau anggota; ia kehilangan seorang pelopor yang membawa dengan dirinya sebagian dari sejarah dan jiwa lembaga itu sendiri.
Pengalaman yang dimiliki oleh orang yang telah membangun lembaga tidak dapat dibandingkan dengan pengetahuan yang dimiliki oleh orang baru. Orang baru mungkin memiliki keahlian yang lebih modern, pengetahuan yang lebih luas, atau semangat yang lebih baru, tetapi mereka tidak memiliki pengalaman tentang bagaimana lembaga itu tumbuh dari nol, bagaimana ia menghadapi tantangan yang luar biasa, dan bagaimana ia menemukan cara untuk bertahan meskipun semua rintangan. Pengalaman ini membentuk cara berpikir dan bertindak orang yang tua, membuat mereka mampu memprediksi masalah yang mungkin muncul, mengambil keputusan yang cerdas berdasarkan kesalahan masa lalu, dan memelihara keutuhan nilai-nilai yang menjadi dasar lembaga. Misalnya, ketika lembaga menghadapi kesulitan keuangan, orang yang tua akan ingat bagaimana mereka pernah mengatasi situasi yang sama dulu dengan cara yang sederhana namun efektif, sedangkan orang baru mungkin hanya melihat angka dan tidak memahami konteks di baliknya. Tanpa pengalaman semacam itu, lembaga berisiko terjebak dalam kesalahan yang sama dan kehilangan arah yang telah dibentuk seiring waktu.
Selain pengalaman, orang yang telah membangun lembaga juga membawa dengan dirinya ikatan emosional yang kuat dengan lembaga dan sesama anggota. Mereka telah berbagi suka dan duka, telah saling mendukung di masa-masa sulit, dan telah membangun kepercayaan yang dalam yang tidak dapat dibangun dalam waktu singkat. Kehadiran mereka memberikan rasa keamanan dan kebanggaan kepada anggota lain, membuat mereka merasa bahwa lembaga itu adalah tempat yang nyaman dan berharga. Ketika mereka keluar, rasa itu pun ikut hilang. Anggota baru mungkin berusaha keras untuk berbaur dan membangun hubungan, tetapi mereka membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai tingkat kepercayaan dan kedekatan yang sama. Tanpa ikatan emosional yang kuat, perkumpulan cenderung menjadi sekadar organisasi yang dingin dan tidak memiliki jiwa, di mana anggota hanya datang untuk memenuhi tugas dan tidak memiliki rasa keterlibatan yang sebenarnya. Ini dapat menyebabkan penurunan semangat dan keikutsertaan anggota, yang pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja dan keberlangsungan lembaga.
Kekosongan yang ditimbulkan oleh keluarnya orang yang tua tidak hanya dirasakan oleh anggota, tetapi juga oleh lembaga itu sendiri sebagai entitas yang hidup. Lembaga itu seperti pohon yang telah ditanam dan dipelihara oleh orang yang tua; mereka telah memberi makan akarnya, melindunginya dari angin kencang, dan membantu ia tumbuh menjadi besar dan kuat. Ketika orang yang tua pergi, pohon itu masih berdiri, tetapi ia kehilangan orang yang memahami kebutuhannya dan tahu bagaimana memelihara kesehatannya. Orang baru mungkin berusaha untuk memberi makan dan melindunginya, tetapi mereka tidak mengetahui sejarah dan karakter pohon itu dengan baik. Mereka mungkin membuang-buang waktu dan tenaga untuk memberi makan akar yang tidak perlu, atau melindunginya dari bahaya yang tidak sebenarnya. Tanpa perawatan yang tepat, pohon itu berisiko layu dan mati, bahkan jika ada banyak orang yang mencoba untuk menyelamatkannya.
Meskipun demikian, hal ini tidak berarti bahwa orang baru tidak memiliki peran penting dalam perkumpulan. Mereka adalah harapan masa depan, yang akan membawa ide-ide baru, energi baru, dan kemampuan baru untuk mengembangkan lembaga lebih jauh. Namun, peran mereka bukan untuk menggantikan orang yang tua, melainkan untuk melanjutkan warisan yang telah diberikan. Mereka perlu belajar dari pengalaman orang yang tua, menghargai nilai-nilai yang telah dibangun, dan membangun hubungan yang kuat dengan mereka sebelum mereka pergi. Dengan cara ini, mereka dapat mengambil alih tanggung jawab dengan penuh kesadaran dan kepekaan, dan memastikan bahwa lembaga terus tumbuh dan berkembang tanpa kehilangan jiwa dan sejarahnya.
Pada akhirnya, keluarnya satu orang pengurus atau anggota yang telah ikut berjuang membangun lembaga adalah peristiwa yang menyakitkan dan berdampak besar. Kekosongan yang ditimbulkannya tidak dapat diisi oleh siapa pun, bahkan tidak dengan sepuluh orang baru yang baru saja bergabung. Ini adalah kekosongan yang berasal dari kehilangan pengalaman, ikatan emosional, dan kehadiran yang penuh makna yang telah menjadi bagian tak terpisah dari lembaga itu sendiri. Oleh karena itu, sangat penting bagi perkumpulan untuk menghargai dan memelihara orang yang tua, untuk mendengarkan cerita mereka, dan untuk memastikan bahwa warisan yang mereka tinggalkan terus hidup dalam hati dan pikiran setiap anggota, terutama orang baru yang akan melanjutkan perjuangan mereka. Hanya dengan cara ini, lembaga dapat tetap kuat dan berkembang, bahkan ketika sosok-sosok yang membangunkannya telah pergi.












