BERITAOPINI & ANALISIS

Penentuan Ramadhan dan Lebaran: Kolaborasi Sains yang Ilmiah, Jejak Astronomi dalam Ibadah

234
×

Penentuan Ramadhan dan Lebaran: Kolaborasi Sains yang Ilmiah, Jejak Astronomi dalam Ibadah

Sebarkan artikel ini

Penentuan Ramadhan dan Lebaran: Kolaborasi Sains yang Ilmiah, Jejak Astronomi dalam Ibadah

TOMBAKOPINI: IAB

 

Ramadhan sudah di ujung jalan, Bang. Tinggal hitungan hari sebelum kita masuk ke bulan Syawal. Suasana mulai berubah—yang tadinya sibuk bangun sahur sambil mata masih setengah nyawa, sekarang mulai sibuk mikirin baju lebaran yang ternyata tahun lalu masih muat… atau kita yang terlalu optimis.

Ngopi dulu, pelan-pelan. Kita ngobrol santai aja.

Setiap tahun, Ramadhan selalu datang dengan rasa yang sama: hangat, penuh harap, dan kadang… penuh drama bangun sahur. Alarm bunyi lima kali, yang bangun malah tetangga. Kita? Masih lanjut mimpi jadi orang sukses… minimal sukses bangun sebelum imsak.

Tapi ada satu hal yang bikin unik—tanggalnya selalu pindah-pindah. Kadang kita puasa di bulan Maret, eh tahun depan sudah maju ke Februari. Lama-lama geser terus sampai ke Januari, bahkan nyelonong ke akhir tahun sebelumnya. Ini bukan Ramadhannya yang bingung arah, Bang. Emang sistemnya beda.

Dalam Islam, yang dipakai kalender Hijriah—kalender yang setia sama peredaran bulan. Satu tahun cuma sekitar 354 hari. Nah, kalender Masehi yang kita pakai sehari-hari itu 365 hari. Selisih 11 hari ini kelihatannya kecil, tapi efeknya luar biasa. Tiap tahun, Ramadhan seperti “maju lebih cepat”, kayak orang yang jalan ngebut di depan kita pas lagi santai-santai.

Baca Juga  Kejati Aceh Raih Penghargaan WBK 2025, Bukti Komitmen Tanpa Korupsi Yang Teruji  

Makanya jangan heran kalau suatu saat kita pernah puasa di musim hujan—adem, syahdu, tidur siang terasa seperti ibadah paling khusyuk. Tapi di tahun lain, kita puasa di musim kemarau—hausnya bukan main, buka puasa rasanya kayak menemukan oase di tengah gurun. Air putih segelas? Rasanya kayak minuman sultan.

Tapi tunggu dulu, penentuan Ramadhan bukan sekadar hitung-hitungan kalender. Ada momen yang selalu ditunggu: rukyatul hilal. Menjelang akhir Sya’ban, para ahli dan petugas akan melihat langit saat matahari terbenam, mencari si bulan sabit tipis—si hilal.

Ini momen yang unik. Di satu sisi ada ilmu astronomi yang canggih (hisab), di sisi lain tetap ada tradisi melihat langsung ke langit. Jadi semacam kolaborasi antara sains dan “nengadah bareng”. Teknologi boleh maju, tapi momen mendongak ke langit tetap nggak tergantikan—sekalian siapa tahu dapat hidayah… atau minimal dapat angle foto bagus.

Baca Juga  Gizi Buruk Bukan “Nasib Miskin” — Akademisi: Negara Memiskinkan dengan Kebijakan

Di Indonesia, hasilnya dibahas dalam sidang isbat. Biasanya, rakyat +62 sudah standby di depan TV atau HP. Bukan nunggu drama, tapi nunggu keputusan: “Besok puasa atau belum?” Deg-degannya mirip nunggu pengumuman kelulusan, bedanya ini yang lulus langsung masuk bulan penuh pahala.

Nah, buat yang suka nyiapin rencana jauh-jauh hari—terutama cuti dan mudik—ini bocoran perjalanan Ramadhan dan lebaran 5 tahun ke depan:

2027: mulai 8 Februari | Lebaran 10 Maret
2028: mulai 28 Januari | Lebaran 26 Februari
2029: mulai 16 Januari | Lebaran 14 Februari
2030: mulai 6 Januari | Lebaran 5 Februari
2031: mulai 26 Desember 2030 | Lebaran 24 Januari 2031

Lihat tuh, Bang. Lama-lama Ramadhan kayak “tour dunia kalender”. Dari awal tahun, pindah ke akhir tahun. Bahkan ada momen puasa rasa tahun baru—habis kembang api, lanjut sahur. Resolusi belum jalan, eh sudah ditambah target ibadah.

Tapi di balik semua pergeseran itu, ada satu hal yang nggak pernah berubah: maknanya.

Ramadhan selalu datang membawa kesempatan yang sama—buat memperbaiki diri, memperbanyak sabar, dan tentu saja… menguji niat antara ibadah atau rebahan. Karena jujur saja, yang sering kesiangan itu bukan cuma sahur, tapi juga niat jadi lebih baik. Niatnya bangun malam, realitanya bangun pas subuh lewat sambil bilang, “Ini mungkin ujian keikhlasan.”

Baca Juga  Polsek Koja Gelar Patroli KRYD, Antisipasi Tawuran dan Balap Liar

Dan sekarang, saat Ramadhan mulai pamit pelan-pelan, ada rasa yang nggak bisa dijelaskan. Antara lega (karena perut akhirnya bisa balas dendam), haru (karena suasananya selalu dirindukan), dan sedikit khawatir—“tahun depan masih ketemu nggak ya?”

Akhirnya kita sadar…

Ramadhan bukan soal dia datang di tanggal berapa. Tapi soal kita, masih diberi kesempatan atau tidak untuk menyambutnya lagi.

Jadi sebelum dia benar-benar pergi, mari kita nikmati sisa harinya. Perbaiki yang masih bolong, kuatkan yang sudah jalan. Tambal ibadah yang sempat “bolos”, dan kalau bisa… kurangi bolosnya, bukan tambah kreatif alasannya.

Dan kalau pun masih ada yang belum sempurna…

Tenang, Bang.

Setidaknya kita sudah berusaha—walaupun kadang lebih semangat buka puasa daripada menahan lapar. Tapi ya… namanya juga manusia. Targetnya surga, jalannya kadang mampir dulu ke dapur.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *