Oleh : M.Fathurahman
OPENING
Kekuasaan sering kali dibayangkan sebagai tongkat komando di tangan pemimpin tertinggi.
Namun, jika menilik pemikiran filsuf Prancis Michel Foucault, kekuasaan sebenarnya bekerja seperti jaring laba-laba:
halus, tak kasatmata, namun mengikat setiap sendi kehidupan sosial melalui apa yang disebut sebagai wacana.
Dalam konteks pemerintahan saat ini, narasi kekuasaan bukan lagi soal represi fisik, melainkan bagaimana realitas “diciptakan” melalui informasi.
Fenomena ini menjadi sorotan dalam membedah dinamika pemerintahan Prabowo–Gibran.
Persoalan utama yang muncul bukanlah sekadar kebijakan yang benar atau salah, melainkan bagaimana kebijakan tersebut dibungkus dan disebarkan kepada publik.
Budaya “Asal Bapak Senang” dan Distorsi Realitas
Kritik tajam mengarah pada budaya birokrasi yang mulai mengedepankan loyalitas di atas integritas.
Ketika data yang tidak akurat dipublikasikan atau program diluncurkan tanpa matangnya perencanaan, kekuasaan sedang bekerja membentuk realitas versi penguasa.
Praktik laporan yang hanya bertujuan menyenangkan atasan—atau budaya “menjilat”—bukanlah sekadar masalah etika individu.

Dalam kacamata Foucault, ini adalah mekanisme kekuasaan yang omnipresent (hadir di mana-mana). Kekuasaan ini hidup dalam:
- Aparat yang menyaring informasi demi citra.
- Bahasa resmi yang membingkai kebijakan agar terlihat rasional.
- Masyarakat yang memilih diam atau mengikuti arus narasi yang ada.
Ancaman terhadap Demokrasi
Bahaya terbesar muncul ketika masyarakat mulai menganggap wacana yang dibangun di atas data lemah sebagai sebuah kebenaran yang “normal”.
Jika realitas publik terus terdistorsi oleh laporan manipulatif, maka demokrasi berada dalam pertaruhan besar.
Kritik terhadap pemerintah seharusnya tidak lagi dipandang sebagai oposisi politik semata, melainkan sebuah upaya untuk membongkar produksi kebenaran tersebut.
Tanpa sikap kritis, kekuasaan tidak lagi berfungsi melayani publik, melainkan hanya bekerja untuk mempertahankan legitimasi dan citra.
Demokrasi yang sehat menuntut keberanian publik untuk mempertanyakan setiap narasi yang dibangun.
Sebab, selama produksi kebenaran hanya dikuasai oleh satu pihak, selama itu pula masyarakat akan terus terperangkap dalam bayang-bayang kekuasaan yang bekerja secara diam-diam namun efektif.












