BERITA

Ketika Kunang-Kunang Pulang, Alam Sedang Berkedip

75
×

Ketika Kunang-Kunang Pulang, Alam Sedang Berkedip

Sebarkan artikel ini

TOMBAKOPINI: IAB

 

Sebelum cerita dimulai, seruput dulu kopinya, Bang! Kemarin Malam saya duduk di halaman rumah. Angin pelan, suasana tenang. Tidak ada gonggongan anjing, yang ada hanya nyanyian jangkrik. Tiba-tiba… cling! Seekor kunang-kunang lewat sambil berkedip.

 

Saya terdiam. Sudah lama sekali saya tidak melihat makhluk kecil bercahaya itu.

 

Ingatan pun mundur ke masa kecil. Dulu, bersama teman-teman, kami sering menangkap kunang-kunang. Setelah dapat, dimasukkan ke botol limun bekas. Jadilah lampu hias. Kalau dipikir sekarang, kami ternyata sudah mengenal lampu hemat energi sebelum pemerintah sibuk membuat program macam-macam.

 

Bedanya, lampu kami hidup karena makhluk hidup.

 

Sekarang saya justru merasa bersalah mengingatnya. Kalau bertemu kunang-kunang lagi, rasanya ingin berkata, “Terbanglah, Nak. Jangan masuk botol lagi. Bapak sudah sadar.”

Baca Juga  Poradnik: Jakie bonusy oferuje Mostbet dla obstawiających?

 

Kunang-kunang memang istimewa. Ia sejenis kumbang dari keluarga Lampyridae yang mampu menghasilkan cahaya kuning kehijauan. Cahayanya disebut sinar dingin karena hampir tidak menghasilkan panas seperti lampu biasa. Jadi kalau kunang-kunang berkedip, jangan dikira sedang korsleting.

 

Kedipan itu juga bukan sekadar pamer lampu. Bagi sebagian jenis, cahaya menjadi bahasa untuk mencari pasangan. Si jantan berkedip, si betina menjawab. Mirip orang PDKT, hanya saja kunang-kunang tidak perlu mengirim pesan, “Kamu sudah makan?” lalu menunggu balasan sampai besok.

 

Ada pula yang menggunakan cahaya sebagai tanda bahaya atau untuk mengecoh mangsa. Dunia kunang-kunang ternyata lengkap: ada yang romantis, waspada, bahkan punya strategi menipu.

 

Baca Juga  Как выбрать лучшие функции в приложении Mostbet для ставок?

Tetapi yang paling penting bukan soal cahayanya. Kunang-kunang membutuhkan lingkungan yang lembap, rerumputan, pepohonan, tanah yang baik, serta kawasan dekat aliran air. Karena itu, kehadirannya dapat menjadi tanda bahwa lingkungan masih cukup ramah bagi kehidupan.

 

Kunang-kunang memang tidak membawa alat ukur kualitas lingkungan. Tidak punya laboratorium. Tetapi ketika ia masih betah datang, alam seperti sedang memberi rapor kecil: air belum terlalu sakit, tanah masih bisa bernapas, dan halaman belum sepenuhnya kalah oleh beton.

 

Masalahnya, kita semakin gemar membuat malam menjadi siang. Lampu rumah, papan reklame, gedung, kendaraan, semuanya menyala. Kita memasang lampu di mana-mana sampai kunang-kunang mungkin bingung: ini malam atau siang hari?

 

Polusi cahaya dapat mengganggu komunikasi mereka. Belum lagi habitat yang hilang, air tercemar, penggunaan pestisida berlebihan, dan perubahan lahan.

Baca Juga  Pemdes Mireng, Trucuk Salurkan Bantuan Sembako untuk 522 KK, Prioritaskan Kriteria Data Sens

 

Dulu kita menangkap kunang-kunang karena ingin memiliki cahaya. Sekarang, mungkin kita harus belajar membiarkannya terbang.

 

Sebab kunang-kunang bukan lampu hias gratis yang disediakan Tuhan untuk halaman rumah kita. Ia penghuni alam yang sedang bekerja dengan caranya sendiri.

 

Malam tadi ia datang sebentar. Berkedip, terbang, lalu menghilang dalam gelap.

 

Saya tersenyum. Mungkin ia tidak sedang mencari saya.

 

Mungkin ia hanya ingin memastikan: halaman ini masih layak menjadi rumah.

 

Saya menyeruput kopi. Dan tiba-tiba saya sadar, alam tidak selalu perlu berteriak untuk mengingatkan manusia.

 

Kadang-kadang, ia cukup berkedip kecil di gelapnya malam.