KARANGANYAR, TOMBAKRAKYAT.com – Rangkaian kegiatan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kabupaten Karanganyar yang digelar di Terminal Tawangmangu berlangsung meriah. Acara tersebut dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang menampilkan enam dalang dengan lakon “Gatotkaca Winisuda”.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah pejabat dan tamu undangan. Hadir di antaranya Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karanganyar, Eko Jati Wibowo, S.Sos., M.M., yang membacakan Sabda Pengukuhan mewakili Pepadi Jawa Tengah.
Sebelum pagelaran dimulai, dilakukan penyerahan gunungan secara simbolis oleh Kepala Disparpora Kabupaten Karanganyar kepada enam dalang yang tampil. Penyerahan gunungan tersebut menjadi tanda resmi dimulainya rangkaian pertunjukan wayang kulit.

Adapun enam dalang yang tampil dalam pagelaran tersebut adalah,Ki Aang Wiyatmoko, S.Sn., Ki Anggit Laras P., M.Sn., Ki Suryanto, S.Sn., Ki Sujarwo Joko, S.Sn., Ki Erwanto, S.Sn., Ki Rajendra.
Masyarakat dan tamu undangan tampak antusias mengikuti jalannya acara. Kehadiran pagelaran wayang kulit ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi upaya pelestarian seni dan budaya Jawa.
Pepadi sebagai wadah para dalang diharapkan mampu menampung aspirasi, pemikiran, serta harapan para pelaku seni pedalangan. Melalui sinergi yang baik bersama pemerintah, Pepadi diharapkan semakin solid dalam membina dan mengembangkan dunia pedalangan di Kabupaten Karanganyar.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karanganyar, Eko Jati Wibowo, S.Sos., M.M., dalam sambutannya menyampaikan bahwa seni pedalangan merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Menurutnya, keberadaan Pepadi memiliki peran strategis dalam membina para dalang sekaligus menumbuhkan minat generasi muda terhadap seni tradisional.
“Wayang kulit bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan yang sarat nilai budaya, moral, dan kearifan lokal. Karena itu, pemerintah akan terus mendukung upaya pelestarian seni pedalangan di Kabupaten Karanganyar,” ujarnya.
Ia juga berharap Pepadi Karanganyar semakin solid dan mampu menjadi wadah yang memperkuat komunikasi serta kolaborasi antar dalang dalam mengembangkan dunia pedalangan di tengah perkembangan zaman.

Salah satu dalang yang tampil dalam pagelaran tersebut, Ki Aang Wiyatmoko, S.Sn., mengapresiasi terselenggaranya kegiatan yang menjadi wadah silaturahmi sekaligus ruang ekspresi bagi para seniman pedalangan.
“Kegiatan seperti ini sangat penting untuk menjaga eksistensi seni pedalangan. Selain menjadi ajang berkarya bagi para dalang, juga menjadi sarana mengenalkan wayang kepada generasi muda agar tetap mencintai budaya warisan leluhur,” ujar Ki Aang Wiyatmoko.
Ia berharap Pepadi terus menjadi wadah yang mampu menyatukan para dalang dan mendorong lahirnya inovasi tanpa meninggalkan pakem serta nilai-nilai budaya Jawa.
Sementara itu, salah seorang warga yang hadir, Wasisto, mengaku senang dan mengapresiasi penyelenggaraan pagelaran wayang kulit di Terminal Tawangmangu.
“Acara seperti ini sangat menghibur sekaligus memberi manfaat karena masyarakat bisa menikmati kesenian tradisional secara langsung. Kami berharap kegiatan budaya seperti ini bisa lebih sering digelar agar generasi muda mengenal dan mencintai wayang kulit,” katanya.
Menurutnya, antusiasme masyarakat yang hadir menunjukkan bahwa kesenian wayang kulit masih memiliki tempat di hati masyarakat dan layak terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.












