PURWOREJO, TOMBAKRAKYAT.COM – Upaya menghidupkan kembali geliat batik Purworejo terus dilakukan melalui berbagai langkah. Salah satunya melalui kegiatan Sarasehan dan Pasar Batik Purworejo yang digelar JTH-art di Omah Ngrapah, Desa Doplang, Kabupaten Purworejo, Sabtu (3/10/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Sekretariat Daerah Kabupaten Purworejo, Ahmat Jainudin, S.IP., M.M., Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (KUKMP) Kabupaten Purworejo Wiyoto Harjono, S.T., Direktur Perumda Air Minum Tirta Perwitasari Kabupaten Purworejo Hermawan Wahyu Utomo, S.T., M.Si., sejumlah pejabat terkait, pelaku batik, serta tamu undangan.
Menariknya, kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan pameran dan pasar batik secara langsung. JTH-art juga memanfaatkan teknologi digital dengan menyediakan akses bagi masyarakat di luar Purworejo untuk mengikuti sarasehan sekaligus melihat koleksi batik melalui platform Zoom.
Pemilik Omah Ngrapah sekaligus pengelola JTH-art, Ida Safitri Laksanawati, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari kedekatan dirinya dengan Kabupaten Purworejo. Ida mengaku menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Purworejo.
Selain itu, ayahnya pernah menjabat sebagai Bupati Purworejo pada 1975 hingga 1985.
Atas dasar ikatan tersebut, tanah peninggalan keluarga di kawasan Ngrapah kemudian ingin dimanfaatkan untuk kegiatan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, salah satunya dengan ikut mendorong perkembangan batik Purworejo.

“Karena kami mempunyai keterikatan dengan Purworejo, dulu saya masa kecil sampai remaja di Purworejo. Almarhum Bapak saya juga pernah menjadi Bupati Purworejo tahun 1975 sampai 1985. Ketika ada sedikit tinggalan dari orang tua berupa tanah, kami ingin memanfaatkannya sebaik mungkin,” ujar Ida.
Menurutnya, batik Purworejo memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Namun, keberadaan batik lokal menghadapi tantangan seiring semakin mudahnya masyarakat mendapatkan tekstil bermotif batik hasil printing.
Ida menilai, masyarakat perlu memahami bahwa batik dan tekstil bermotif batik merupakan dua hal yang berbeda, terutama dari sisi proses pembuatannya.
“Ini langkah kecil dulu untuk mengundang teman-teman perajin batik, membuat pasar batik dan mempromosikan. Yang berbeda, kami tidak hanya berjualan secara onsite, tetapi juga menyiapkan platform melalui website,” jelasnya.
Pasar Batik Dipadukan dengan Teknologi Digital
Rangkaian kegiatan diawali dengan kesempatan bagi peserta untuk melihat langsung pameran batik. Setelah itu, dilanjutkan dengan Sarasehan Batik Purworejo yang dapat diikuti secara langsung maupun daring melalui Zoom.
Melalui konsep tersebut, masyarakat dari luar Purworejo dapat melihat berbagai karya batik yang ditampilkan. Jika tertarik dengan salah satu produk, calon pembeli dapat melakukan transaksi melalui transfer.
Selanjutnya, kain batik dikemas dan dikirim ke alamat pemesan melalui jasa ekspedisi. Adapun biaya pengiriman ditanggung oleh pembeli.
Untuk kegiatan perdana ini, terdapat empat perajin batik yang ikut ambil bagian, yakni Batik Jazid Bastomi, Batik Dewa Loano, Naraya Batik, dan Wira Satya Batik.
Ida menjelaskan, jumlah perajin yang dilibatkan masih terbatas karena menyesuaikan kondisi tempat.
“Ini pertama kali. Saat ini yang ikut serta empat perajin karena kami juga melihat keterbatasan ruangan dan area. Insyaallah kalau tahun depan tempatnya sudah lebih memungkinkan, kami bisa mengundang lebih banyak perajin,” katanya.
Ia menegaskan, keberadaan Omah Ngrapah bukan untuk mengambil alih tempat usaha para perajin. Sebaliknya, Omah Ngrapah ingin membantu memperkenalkan produk mereka melalui platform digital.
“Teman-teman ini kan punya tempat sendiri. Nanti koleksi mereka akan kami minta izin untuk ditampilkan di website Omah Ngrapah. Jadi ketika orang membuka website, bisa melihat, ini batiknya Mas Jasid, ini batiknya Naraya, dan seterusnya,” ungkap Ida.
Bukan Sekadar Seremonial Hari Batik
Ida berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial dalam memperingati Hari Batik. Menurutnya, momentum Hari Batik seharusnya dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap batik sekaligus memberikan dukungan nyata kepada para perajin.
“Harapannya, peringatan Hari Batik tidak sekadar diperingati, tetapi betul-betul menjadi momentum. Harusnya orang Indonesia memakai batik yang betul, bukan batik printing,” tegasnya.
Ia menjelaskan, proses pembuatan batik tulis membutuhkan waktu, keterampilan dan ketekunan. Karena itu, keberlangsungan para perajin sangat bergantung pada dukungan pasar dan minat masyarakat untuk membeli serta menggunakan batik asli.

“Kalau makin banyak yang memakai, teman-teman perajin akan hidup karena banyak yang pesan. Tetapi kalau digantikan oleh tekstil bermotif batik printing, mereka tidak akan hidup,” katanya.
Dalam sarasehan tersebut, Ida menyebut berdasarkan informasi yang diperolehnya terdapat sekitar 32 perajin batik yang telah diidentifikasi Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui sektor UMKM.
Namun, menurutnya, tidak seluruh perajin tersebut masih aktif memproduksi maupun mengikuti berbagai kegiatan batik.
Ia menyebut perajin yang konsisten mengembangkan batik tulis jumlahnya lebih terbatas. Sementara sebagian lainnya mengembangkan teknik lain, seperti batik cap dan ecoprint.
Omah Ngrapah Disiapkan Jadi Ruang Kreatif
Omah Ngrapah sendiri berdiri di atas lahan sekitar 600 meter persegi. Ke depan, tempat tersebut diarahkan menjadi ruang yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan masyarakat.
Pengelola juga berencana mengembangkan fasilitas di lokasi tersebut, termasuk membangun joglo dan menyiapkan fasilitas penginapan.
Untuk mendukung promosi batik, salah satu ruangan telah disiapkan sebagai tempat menampilkan sejumlah koleksi karya para perajin.
Ida menegaskan, Pasar Batik secara langsung tidak akan digelar setiap hari. Namun, keberadaan platform digital diharapkan dapat membuat promosi dan pemasaran karya perajin tetap berjalan serta menjangkau masyarakat di luar Purworejo.
“Jadi hari ini memang ada Pasar Batik. Tetapi yang tidak bisa datang hari ini atau ingin melihat bisa melalui website. Jadi kami menggunakan digital untuk itu,” terang Ida.
Langkah tersebut diharapkan menjadi awal kolaborasi yang lebih luas antara perajin, pelaku UMKM, komunitas, masyarakat, serta berbagai pihak untuk menjaga keberlangsungan batik Purworejo.
Bagi Ida, pelestarian batik tidak cukup hanya dengan mengenakan maupun memamerkannya. Dukungan kepada perajin melalui pembelian, promosi, edukasi dan perluasan pasar menjadi bagian penting agar batik tetap hidup sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi para pembuatnya.












