BERITADAERAH

Wajah Sejuk Toleransi : Keluarga Pendeta Gelar Halalbihalal di Dalam Gereja

194
×

Wajah Sejuk Toleransi : Keluarga Pendeta Gelar Halalbihalal di Dalam Gereja

Sebarkan artikel ini

Semarang, TombakRakyat.com – Pemandangan penuh kesejukan dan harmoni antarumat beragama tampak di Gereja Kristen Nazarene (GKN) Gloria, Sabtu (21/3/2026) pagi. Dalam suasana Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, keluarga Pendeta Timotius Hendro Djuwahir, M.Th membuka pintu gereja untuk menggelar acara Halalbihalal bersama warga sekitar.

Kegiatan tersebut berlangsung usai pelaksanaan salat Idul Fitri dan dihadiri masyarakat lintas agama. Warga yang baru saja menunaikan ibadah tidak langsung kembali ke rumah, melainkan menyempatkan diri datang ke gereja untuk bersilaturahmi dan saling bermaafan.

Baca Juga  PSI Kendal di Pesta Laut Tawang

Pendeta Timotius Hendro Djuwahir menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari nilai kasih dan persaudaraan yang harus terus dijaga. “Momentum Idul Fitri menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan sosial, sekaligus menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi kebersamaan,” ujarnya kepada awak media.

Acara tersebut turut dihadiri tokoh masyarakat, pemuda lintas agama, serta warga dari berbagai latar belakang. Selain bersalaman, para tamu disuguhi aneka hidangan khas Lebaran sebagai simbol penghormatan dan kebersamaan.

Baca Juga  Longsor di Kaliboto Bener, Arus Purworejo–Magelang Dibuka Satu Jalur

Fenomena Halalbihalal di dalam lingkungan gereja ini menjadi gambaran konkret praktik toleransi yang hidup di tengah masyarakat. Nilai-nilai saling menghormati dan menghargai perbedaan tampak terwujud secara alami tanpa sekat.

Dalam perspektif sosial, kegiatan seperti ini dinilai sejalan dengan semangat persatuan bangsa yang dijunjung tinggi dalam kehidupan bernegara. Praktik toleransi yang berlangsung di tengah masyarakat menjadi cerminan implementasi nilai-nilai kebhinekaan.

Baca Juga  Психология игроков в онлайн казино Пинко

Kehangatan yang tercipta di GKN Gloria menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar wacana, melainkan tindakan nyata yang tumbuh dari kesadaran bersama sebagai sesama manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *