OPINI & ANALISIS

Asap Rokok dan Suara Game di Tengah Pembahasan Nasib Rakyat

152
×

Asap Rokok dan Suara Game di Tengah Pembahasan Nasib Rakyat

Sebarkan artikel ini

TOMBAKOPINI: Emhape

Minum dulu kopinya, Bang. Karena cerita politik kali ini agak pahit rasanya. Bukan pahit karena kopinya tanpa gula, tapi karena yang bikin ulah justru wakil rakyat yang mestinya jadi harapan generasi muda.

Namanya Ahmad Syahri Assidiqi. Masih muda. Masih segar. Umurnya sekitar 25 tahun waktu duduk di kursi DPRD Jember. Anak muda yang awalnya dianggap paket lengkap politik masa kini. Gayanya santai, dekat dengan komunitas pemuda, rajin muncul di media sosial, dan tentu saja punya modal nama besar keluarga politik.

Ia adalah anak dari Lora Fadil, sosok yang dulu sempat bikin publik melongo karena datang ke pelantikan DPR RI bersama tiga istrinya. Jadi kalau politik Indonesia itu serial televisi, keluarga ini sudah seperti pemain tetap yang kontraknya diperpanjang tiap musim.

Awalnya rakyat optimis. “Nah, ini dia wakil anak muda,” kata sebagian orang. Wajahnya cocok jadi poster kampanye. Tinggal pakai kemeja putih, lipat lengan sedikit, lalu pose sambil menatap sawah, selesai sudah citra “merakyat”-nya.

Baca Juga  Solar Subsidi Nelayan Aman Melenggang Keluar lewati Depan Penegakan Hukum: Yang Bermain Elit, Yang Dihukum Nelayan

Tapi rupanya hidup tidak semulus feed Instagram.

Di tengah rapat penting DPRD Jember yang membahas stunting dan angka kematian ibu, tiba-tiba muncul video yang membuat satu kabupaten mendadak batuk karena kaget. Dalam video itu, Syahri terlihat santai bermain game sambil merokok di ruang rapat.

.
Padahal yang dibahas saat itu bukan soal ranking Mobile Legends. Itu rapat tentang kesehatan masyarakat. Tentang anak-anak yang kekurangan gizi. Tentang ibu-ibu yang berjuang melahirkan di fasilitas seadanya. Tentang rakyat yang kadang harus menempuh jalan rusak hanya untuk sampai ke puskesmas.

Sementara di tengah pembahasan serius itu, ada wakil rakyat yang malah sibuk push rank.

Di situlah publik mulai naik tensi.

Karena yang membuat masyarakat marah sebenarnya bukan sekadar game-nya. Orang Indonesia juga banyak yang main game. Bahkan mungkin ada yang habis marah di Facebook lalu lanjut main PUBG supaya tenang. Tapi masalahnya ini terjadi di ruang sidang resmi saat membahas nasib rakyat.

Itu ibarat sopir ambulans yang berhenti dulu demi main lato-lato.

Baca Juga  Indonesia Raja HP: Layar di Tangan, Nalar di Persimpangan

Ironisnya lagi, Syahri duduk di Komisi D DPRD Jember. Komisi yang mengurusi kesehatan, pendidikan, sosial, kepemudaan, hingga perlindungan anak. Jadi ini bukan sekadar salah momen. Ini seperti petugas pemadam kebakaran yang malah sibuk selfie saat rumah warga terbakar.

Begitu videonya viral, barulah muncul episode yang paling sering tayang di negeri ini: konferensi pers permintaan maaf.

Syahri tampil dengan wajah teduh dan suara lirih. Mirip santri yang ketahuan merokok di belakang asrama lalu dipanggil ustaz.

“Saya khilaf,” katanya.

Kalimat legendaris Indonesia setelah “otw lima menit.”
Ia meminta maaf kepada masyarakat Jember, pimpinan partai, bahkan sampai Ketua Umum Gerindra. Katanya siap menerima konsekuensi dan siap dievaluasi. Badan Kehormatan DPRD Jember dan Majelis Kehormatan Partai pun mulai bergerak memeriksa etik dirinya.

Tapi netizen Indonesia bukan ikan cupang yang gampang lupa.

Publik telanjur kecewa. Banyak yang meminta agar dirinya dipecat dan dilakukan PAW. Karena bagi masyarakat, kursi wakil rakyat itu bukan tempat magang mencari followers atau ajang pamer lifestyle anak muda.

Baca Juga  1 SURAT, 1000 MAKNA: Ketika Siswa Mengajari Negara Tentang Prioritas 

Yang paling disayangkan sebenarnya bukan videonya. Tapi fakta bahwa Syahri punya semua modal untuk berhasil. Masih muda, pendidikan ada, jaringan politik kuat, kesempatan besar terbuka lebar. Banyak orang bahkan bermimpi bisa sampai ke kursi dewan. Tapi semua itu mendadak tenggelam hanya karena beberapa menit bermain game di ruang rapat.

Beginilah politik kita kadang, Bang.

Rakyat datang ke TPS membawa harapan. Mereka memilih sambil percaya hidup bisa sedikit lebih baik. Tapi beberapa bulan kemudian, yang muncul malah video klarifikasi dan permintaan maaf.

Kadang negeri ini terasa seperti sinetron panjang tanpa episode tamat.

Padahal rakyat tidak meminta wakil rakyat jadi superhero. Tidak harus bisa terbang. Tidak harus hafal semua teori ekonomi. Tidak harus jago pidato sampai berbusa.

Rakyat cuma ingin satu hal sederhana: hadir dan serius saat membahas hidup orang banyak.

Karena penderitaan rakyat itu bukan mode permainan yang bisa di-pause kapan saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *