OPINI & ANALISIS

Ratu Bawang Republik Internet: Susanah, Mahkota yang Datang Tanpa Diminta

96
×

Ratu Bawang Republik Internet: Susanah, Mahkota yang Datang Tanpa Diminta

Sebarkan artikel ini

TOMBAKOPINI: IAB

 

Malam ini kita tidak sedang membicarakan ratu yang tinggal di istana, memakai mahkota emas, atau duduk manis di singgasana. Ratu kita jauh lebih unik. Namanya Susanah, buruh harian pengupas bawang dari Kabupaten Bogor. Mahkotanya bukan emas, melainkan kulit bawang. Senjatanya bukan pedang, tetapi pisau pengupas. Kerajaannya? Tempat ia bekerja mencari nafkah untuk keluarga.

Simak narasinya sambil menyeruput kopi dulu, Bang. Biar pahit kopinya, jangan sampai pahit pula cara kita membaca cerita.

Pada 14 Agustus 2026, kerajaan kecil Susanah mendadak pindah alamat ke Gedung Parlemen. Ia hadir sebagai salah satu dari delapan tamu istimewa dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD. Seorang buruh harian tiba-tiba duduk di tengah panggung kenegaraan. Kalau ini dongeng kerajaan, judulnya cocok: Dari Bawang ke Senayan.

Susanah tentu tidak datang untuk meminta mahkota. Ia hadir sebagai gambaran masyarakat kecil yang merasakan manfaat program perlindungan sosial. Ia penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Sembako. Dengan penghasilan sebagai buruh harian yang tidak menentu, bantuan tersebut membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan menjaga anak-anaknya tetap bersekolah.

Baca Juga  JNN: Dari Harapan Pengawasan Publik Menjadi Sekadar Balasan Chat? 

Sampai di sini, ceritanya sederhana. Bahkan mengharukan.

Tapi internet punya cara sendiri mengolah kesederhanaan menjadi kegaduhan.

Ketika memperkenalkan Susanah, Presiden Prabowo menyebut upahnya sekitar Rp700 ribu per kilogram. Nah, Bang! Kalimat itu membuat kalkulator warganet langsung bangun dari tidur. Kalau benar Rp700 ribu sekilo, Susanah bukan lagi buruh pengupas bawang. Ia sudah pantas dinobatkan sebagai Ratu Bawang Republik Internet.

Coba bayangkan. Pisau pengupas berubah menjadi pedang kerajaan. Timbangan bawang menjadi alat audit. Gudang bawang menjelma istana. Kulit bawang? Jangan-jangan sudah punya protokol kenegaraan.

Warganet pun ramai berhitung. Diduga ada kekeliruan penyebutan atau salah dengar. Angka Rp700 per kilogram kemudian ramai dibandingkan dengan Rp700 ribu yang terdengar dalam pidato.

Baca Juga  Berburu Ikan Lampam di Danau Siais: Lebih Dari Sekedar Memancing

Jadilah Susanah naik takhta.

Bukan di istana, tetapi di media sosial.

Dari pengupas bawang menjadi tamu kenegaraan. Dari tamu kenegaraan menjadi viral. Dari viral menjadi ratu. Dari Rp700 menjadi Rp700 ribu. Satu angka saja berhasil membuat rakyat mendadak menjadi ekonom, pedagang, pengusaha, bahkan konsultan bawang.

Hebat memang kekuatan internet, Bang. Kadang satu angka bisa mengubah nasib seseorang lebih cepat daripada kenaikan harga bawang.

Tapi setelah selesai tertawa, mari kita turunkan mahkotanya sebentar.

Susanah bukan cerita tentang perempuan yang mendadak kaya karena bawang. Ia adalah cerita tentang seorang ibu yang bekerja keras dengan penghasilan tidak tetap demi keluarga dan pendidikan anak-anaknya. Bantuan sosial bukan hadiah untuk bermalas-malasan, melainkan jaring pengaman bagi mereka yang sedang menghadapi keterbatasan.

Baca Juga  GA. Manullang: Kisah Perwira Batak yang Tersembunyi di Sudut Padalarang

Jadi, kalau mau mencari siapa sebenarnya Ratu Bawang, jangan lihat angka upahnya.

Lihat ketekunannya.

Ia bekerja dengan pisau kecil, mengupas bawang satu demi satu, demi kehidupan yang lebih baik. Dan mungkin justru di situlah mahkota sebenarnya berada.

Kalau besok orang berbondong-bondong ke Bogor membawa koper, pisau, dan sarung tangan karena tergiur Rp700 ribu sekilo, Susanah mungkin cuma tertawa.

“Silakan jadi pengupas bawang. Tapi jangan lupa, siapa yang membeli bawangnya?”

Sebab Kerajaan Bawang tidak membutuhkan terlalu banyak ratu. Ia membutuhkan orang-orang yang mau bekerja, pemerintah yang tepat membantu, dan anak-anak yang kelak tidak perlu mewarisi kulit bawang sebagai mahkota perjuangan.

Kopi kita habiskan, Bang.

Mahkota kita simpan.

Dan Susanah biarkan tetap menjadi ratu—bukan karena Rp700 ribu per kilogram, tetapi karena ketekunannya menghidupi keluarga.