OPINI & ANALISIS

Swasembada Meme di Era Prabowo: Dari Istana ke FYP, Pidato Presiden Menggerakan Industri Kreatif

474
×

Swasembada Meme di Era Prabowo: Dari Istana ke FYP, Pidato Presiden Menggerakan Industri Kreatif

Sebarkan artikel ini
doc.TRai
doc.TRai

TOMBAKOPINI: Kritikaputri

 

Harus diakui, Presiden Prabowo mungkin adalah salah satu pemimpin paling inspiratif di era internet. Bukan hanya menginspirasi menteri, birokrat, petani, nelayan, atau pelaku usaha. Yang paling nyata justru menginspirasi netizen, meme creator, admin Facebook, pembuat video TikTok, editor CapCut, hingga komunitas pecinta screenshot pidato.

Di tengah ekonomi yang kadang membuat rakyat mengernyitkan dahi saat melihat harga kebutuhan pokok, Presiden justru berhasil menghadirkan hiburan gratis berkualitas tinggi melalui berbagai pernyataan yang viral.

Kalau zaman dahulu inspirasi lahir dari buku-buku filsafat, pidato Bung Karno, atau pemikiran para ilmuwan, maka di era digital inspirasi bisa datang dari pidato yang membuat netizen berhenti menggulir layar lalu berkata:

“Sebentar… tadi beliau bilang apa?”

Dan dari situlah ribuan konten lahir.

 

Industri Kreatif yang Tumbuh dari Pidato

Biasanya pemerintah membangun industri kreatif melalui pelatihan, bantuan modal, atau inkubator bisnis.

Namun kali ini pendekatannya berbeda.

Cukup satu pidato.

Lalu ribuan akun TikTok bekerja.

Ratusan editor video begadang.

Puluhan meme baru lahir.

Dan algoritma media sosial langsung panen raya.

Tidak berlebihan jika suatu saat Kementerian Ekonomi Kreatif memasukkan kategori baru:

“Kontributor Inspirasi Konten Nasional.”

Penerima penghargaan pertamanya sudah jelas.

 

Ketika Matematika Menjadi Seni

Salah satu momen yang paling membekas di ingatan publik adalah fenomena “10+6 = 17”.

Bagi sebagian orang, matematika adalah ilmu pasti.

Namun bagi netizen Indonesia, matematika ternyata juga bisa menjadi seni pertunjukan.

Bahkan hingga berbulan-bulan setelahnya, angka 10 dan angka 6 tidak lagi dipandang sama.

Mereka telah menjadi simbol budaya digital.

Di berbagai platform media sosial, angka tersebut hidup abadi sebagai bahan candaan, meme, dan parodi. Bahkan diskusi warganet di Reddit masih terus mengaitkan berbagai pernyataan Presiden dengan fenomena angka-angka yang viral tersebut.

Mungkin inilah yang dimaksud ekonomi sirkular.

Pidato masuk.

Konten keluar.

Engagement naik.

Kuota habis.

Operator seluler untung.

 

Satu Penggilingan Padi Untung Rp2 Triliun Sebulan

Jika sebelumnya publik dibuat terpukau dengan berbagai perhitungan yang terasa spektakuler, maka muncul lagi narasi yang tak kalah mengundang decak kagum.

Konon, sebuah penggilingan padi bisa meraih keuntungan hingga Rp2 triliun dalam satu bulan.

Bagi sebagian netizen, angka itu terdengar begitu fantastis hingga membuat banyak pemilik usaha besar di Indonesia mungkin perlu membuka buku catatan lagi.

Sebab jika benar demikian, maka bisnis penggilingan padi bukan lagi usaha sektor pertanian.

Ia sudah naik kelas menjadi industri super premium yang mungkin profitabilitasnya bisa membuat perusahaan-perusahaan raksasa nasional ikut melirik.

Netizen pun langsung melakukan aktivitas favorit mereka: menghitung.

Baca Juga  Pendidikan Sengaja Tidak Diprioritaskan: Rakyat Pintar Berbahaya bagi Penguasa Bodoh

Jika keuntungan mencapai Rp2 triliun per bulan, berarti sekitar Rp66 miliar per hari.

Atau sekitar Rp2,7 miliar per jam.

Bahkan ketika pemilik penggilingan sedang tidur, secara teori keuntungan masih mengalir lebih dari Rp45 juta per menit.

Angka yang membuat sebagian pekerja kantoran mendadak merasa salah memilih jalur karier.

Meme pun bermunculan.

Ada yang bercanda bahwa Bursa Efek Indonesia perlu membuat indeks baru khusus saham penggilingan padi.

Ada yang menyarankan anak muda tidak lagi bercita-cita menjadi dokter, insinyur, atau ASN, melainkan menjadi pemilik penggilingan padi.

Karena ternyata di republik meme, penggilingan padi bukan sekadar tempat mengolah gabah menjadi beras.

Melainkan pintu masuk menuju status sultan.

Tentu substansi yang ingin disampaikan pemerintah adalah pentingnya memperkuat rantai distribusi pangan dan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Namun seperti biasa, ketika sebuah angka terdengar terlalu besar dibanding pengalaman sehari-hari masyarakat, publik tidak berhenti pada pesan utamanya.

Mereka berhenti pada angkanya.

Lalu membandingkan dengan kenyataan.

Lalu menghitung.

Dan setelah itu internet mulai bekerja.

Karena rakyat mungkin tidak memiliki akses ke ruang rapat para pejabat, tetapi mereka memiliki kalkulator, kuota internet, dan kemampuan membuat meme yang sering kali lebih cepat daripada klarifikasi resmi.

Akhirnya, angka Rp2 triliun itu pun bergabung dengan deretan legenda digital lainnya. Berdampingan dengan kisah matematika yang membuat netizen mengernyit, petani yang dibayangkan bisa berlibur ke luar negeri, hingga buruh kupas bawang yang penghasilannya terdengar seperti gaji direktur perusahaan multinasional.

Dan sekali lagi, internet Indonesia menemukan bahan bakar barunya.

 

Petani yang Liburan ke Luar Negeri

Lalu muncul berbagai potongan pernyataan yang kemudian diolah netizen menjadi narasi bahwa petani sekarang liburan-nya ke luar negeri.

Meme-meme pun bermunculan.

Ada yang menggambarkan petani turun dari pesawat sambil membawa cangkul.

Ada yang membuat brosur wisata bertema:

“Paket Sawah ke Swiss.”

Ada pula yang membayangkan rombongan petani Indonesia sedang berfoto di Menara Eiffel sambil membahas harga pupuk.

Apakah itu benar?

Tentu bukan itu substansi kebijakan pemerintah.

Namun di internet, logika sering kalah cepat dari kreativitas.

 

Puncaknya: Ratu Bawang dari Bogor

Dan kemudian lahirlah legenda baru.

Namanya Susanah.

Seorang buruh pengupas bawang dari Bogor.

Dalam pidato kenegaraan terbaru, muncul pernyataan yang kemudian ramai diperdebatkan publik karena menyebut upah pengupas bawang mencapai Rp.700 ribu per kilogram. Potongan video dan diskusinya langsung menyebar luas di media sosial hingga menjadi bahan perbincangan warganet.

Di titik inilah internet Indonesia mencapai puncak kreativitasnya.

Netizen mulai berhitung.

Harga bawang di pasar sekitar puluhan ribu rupiah per kilogram.

Baca Juga  Gerakan Ayah Mengambil Rapor dalam Perspektif Hukum dan HAM

Upah mengupas bawang disebut Rp.700 ribu per kilogram.

Maka secara ekonomi, bawang tersebut tampaknya bukan lagi komoditas pangan.

Melainkan logam mulia.

Sebagian netizen bahkan bercanda bahwa bawang tersebut mungkin ditanam di Planet Krypton.

Ada yang mengusulkan Bursa Efek Indonesia segera membuka indeks baru:

IDX Onion Premium.

Ada pula yang menyarankan anak-anak muda berhenti mengejar pekerjaan kantoran.

Karena masa depan bangsa ternyata ada pada profesi pengupas bawang.

 

Dari Buruh Menjadi Sultan

Mari kita bayangkan sejenak.

Jika seorang pengupas bawang mampu mengupas 10 kilogram sehari dengan tarif Rp.700 ribu per kilogram.

Maka pendapatannya mencapai Rp.7 juta per hari.

Dalam sebulan bisa lebih dari Rp200 juta.

Dalam setahun bisa miliaran rupiah.

Jika demikian, pertanyaan yang muncul bukan lagi:

“Bagaimana menciptakan lapangan kerja?”

Melainkan:

“Di mana alamat pabrik bawang itu?”

Bahkan lulusan universitas mungkin perlu mempertimbangkan ulang pilihan karier mereka.

Empat tahun kuliah.

Skripsi.

Wisuda.

Tes CPNS.

Atau cukup membeli pisau pengupas bawang premium.

Mengapa Pernyataan Seperti Ini Cepat Viral?

Jawabannya sederhana.

Karena rakyat hidup dalam realitas sehari-hari.

Mereka tahu harga bawang.

Mereka tahu harga gabah.

Mereka tahu berapa upah buruh di kampung mereka.

Ketika sebuah angka terdengar jauh dari pengalaman sehari-hari, alarm logika publik otomatis menyala.

Dan di era media sosial, alarm itu berbunyi dalam bentuk meme.

Inilah yang sering tidak dipahami sebagian pejabat.

Masyarakat bukan marah karena angka.

Masyarakat bereaksi karena mereka memiliki pengalaman nyata.

Buruh tahu berapa gajinya.

Petani tahu berapa hasil panennya.

Nelayan tahu berapa harga solar.

Pedagang tahu berapa harga pasar.

Karena itu ketika muncul angka yang terasa tidak nyambung dengan kenyataan, internet segera bekerja.

Dan internet Indonesia terkenal sangat rajin bekerja.

 

Pelajaran Politik yang Terlupakan

Di balik semua kelucuan ini sebenarnya ada pelajaran penting.

Pidato seorang presiden bukan sekadar rangkaian kata.

Ia adalah sumber data publik.

Apa yang diucapkan akan dipercaya sebagian masyarakat.

Akan dikutip media.

Akan menjadi referensi pejabat daerah.

Dan akan diperiksa netizen.

Karena itu akurasi menjadi sangat penting.

Bukan karena publik anti humor.

Justru karena publik terlalu cerdas untuk tidak memeriksa.

Era ketika rakyat hanya mendengar sudah berakhir.

Hari ini rakyat mendengar, merekam, memotong video, membuat meme, membandingkan data, lalu menyebarkannya ke jutaan orang dalam hitungan menit.

 

Republik Meme

Pada akhirnya, mungkin sejarah akan mencatat bahwa Presiden Prabowo berhasil menciptakan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Bukan hanya swasembada pangan.

Bukan hanya program-program strategis nasional.

Tetapi juga swasembada meme.

Dari 10+6 yang menjadi 17.

Dari berbagai pernyataan ekonomi yang memancing perdebatan.

Baca Juga  Ketika Korupsi Desa dan Pungutan Pendidikan Telah Menjadi Fenomena yang Meluas

Hingga lahirnya Susanah, sang Ratu Bawang Republik Internet.

Sosok yang mungkin tidak pernah meminta menjadi viral.

Namun kini telah menjadi bagian dari folklore digital Indonesia.

Dan selama internet masih menyala, selama ada kuota, selama ada admin Facebook yang belum tidur, selama ada editor video yang siap menambahkan backsound dramatis, maka satu hal bisa dipastikan:

Pidato boleh selesai.

Tetapi kontennya akan terus hidup.

Karena di Indonesia, inspirasi tidak selalu datang dari kenyataan.

Kadang ia datang dari satu kalimat yang membuat seluruh negeri berkata:

“Tunggu dulu… maksudnya bagaimana?”

 

Netizen Tidak Peduli Siapa Penulis Naskahnya

Yang menarik, netizen sebenarnya tidak terlalu peduli siapa yang menyusun teks pidato itu. Mereka juga tidak sibuk mencari nama staf, tim ahli, konsultan komunikasi, atau penulis naskah yang berada di balik layar.

Bagi publik, yang mereka dengar adalah suara Presiden. Yang mereka catat adalah kalimat yang diucapkan Presiden. Dan yang mereka jadikan meme juga tetap Presiden.

Karena dalam politik, rakyat tidak memilih penulis pidato. Rakyat memilih Presiden.

Justru yang mulai menjadi pertanyaan publik adalah hal lain yang lebih serius. Apakah di sekitar Presiden sudah tidak ada lagi orang yang berani mengingatkan ketika ada data yang keliru, angka yang tidak masuk akal, atau kalimat yang berpotensi menimbulkan salah tafsir?

Sebab dalam tradisi kepemimpinan yang sehat, loyalitas bukan hanya soal tepuk tangan dan pujian. Loyalitas juga berarti keberanian mengatakan, “Maaf Pak, data ini perlu dicek lagi.”

Pemimpin yang hebat membutuhkan orang-orang yang berani menyampaikan fakta, bukan sekadar orang-orang yang pandai mengangguk.

Karena jika semua orang di sekeliling hanya berkata “siap, luar biasa, benar sekali”, maka lambat laun yang hilang bukan hanya akurasi pidato, tetapi juga fungsi kontrol yang seharusnya menjaga seorang pemimpin tetap berpijak pada realitas.

Dan ketika ruang koreksi mulai mengecil, internet akan mengambil alih peran itu.

Bedanya, kalau koreksi datang dari staf ahli, biasanya dilakukan di ruang rapat yang tenang. Tetapi kalau koreksi datang dari netizen, bentuknya bisa berupa meme, video parodi, stiker WhatsApp, hingga konten viral yang ditonton jutaan orang.

Pada titik itulah republik internet bekerja dengan caranya sendiri. Tidak ada surat tugas, tidak ada SK pengangkatan, tidak ada honor negara. Namun jutaan netizen mendadak menjadi tim pemeriksa fakta dadakan.

Mungkin karena itu, setiap kali muncul angka yang terasa terlalu jauh dari kenyataan, rakyat tidak lagi bertanya siapa penulis pidatonya.

Mereka hanya tersenyum, membuka aplikasi edit video, lalu berkata:

“Baiklah, konten hari ini sudah ketemu.”