TOMBAKOPINI: IAB
Soal mencari muka ini memang lucu. Ada orang mencari uang, wajar. Mencari ilmu, bagus. Mencari jodoh, manusiawi. Mencari jabatan, juga biasa. Tapi kalau sudah sampai tahap mencari muka, nah, ini agak rumit. Sebab mukanya sebenarnya sudah ada. Tinggal bercermin. Simak narasinya, jangan lupa seruput dulu kopinya, Bang!
Guyonan satir itu dilontarkan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu, 19 September 2026.
Kiai Hasan awalnya bergurau. Kalau Presiden Prabowo batal hadir, beliau bingung harus menaruh muka di mana. Dari situ meluncurlah kalimat yang membuat hadirin tertawa.
Katanya, sekarang banyak orang cari muka. Orang tidak punya ijazah cari ijazah. Tidak punya nama cari nama. Tidak punya uang cari uang. Tidak punya jabatan cari jabatan. Dan puncaknya: orang tidak punya muka cari muka.
Waduh, Bang!
Kalimatnya pendek. Tapi kalau direnungkan sambil menyeruput kopi, isinya bisa membuat gula lupa manis.
Begitulah manusia. Kadang yang dikejar bukan lagi apa yang benar-benar dibutuhkan, tetapi bagaimana supaya terlihat memiliki sesuatu.
Ada yang sibuk mengejar gelar supaya dipanggil hebat. Ada yang mengejar jabatan supaya dipanggil terhormat. Ada yang mengejar popularitas supaya namanya muncul di mana-mana. Ada pula yang rajin tampil di depan kamera, padahal pekerjaannya belum tentu sebanyak unggahannya.
Kamera menyala, senyum ikut menyala. Kamera mati, entah bagaimana nasib semangatnya.
Tetapi jangan buru-buru menunjuk orang lain. Jangan sampai kita tertawa paling keras, padahal diam-diam juga sedang bercermin kepada orang lain untuk mencari muka.
Sebab “cari muka” tidak selalu berarti menjilat. Kadang bentuknya lebih halus. Terlalu ingin dipuji. Terlalu ingin dianggap penting. Terlalu takut tidak diperhatikan. Akhirnya hidup seperti sedang mengikuti lomba: siapa paling kelihatan, dia merasa paling berhasil.
Di sinilah guyonan Kiai Hasan menjadi menarik. Tawa hadirin memang terdengar, tetapi setelah tawa reda, ada pertanyaan yang tertinggal.
Untuk apa sebenarnya kita mencari muka?
Seratus tahun Gontor mestinya bukan cuma soal umur sebuah lembaga pendidikan. Ia juga mengingatkan bahwa nama besar tidak dibangun dengan sibuk mencari muka. Nama besar dibangun dengan ilmu, disiplin, pengabdian dan ketekunan yang panjang.
Muka boleh dicari. Tetapi carilah di cermin.
Di sana kita bisa melihat wajah sendiri tanpa perlu tepuk tangan.
Kalau ada noda, bersihkan. Kalau ada kekurangan, perbaiki. Kalau ada kesalahan, akui.
Sebab cermin tidak pernah berbohong. Ia tidak peduli kita pejabat, pengusaha, ustaz, aktivis, wartawan atau warga warung kopi.
Cermin cuma berkata jujur: itulah muka kita.
Jadi, Bang, sebelum sibuk mencari muka di hadapan manusia, mungkin sesekali kita perlu mencari wajah sendiri di hadapan hati nurani.
Kopi boleh pahit.
Kritik boleh pedas.
Tapi jangan sampai hidup terlalu manis di depan orang, sementara pahitnya kita sembunyikan di belakang.












