TOMBAKOPINI: IAB
Sore ini kita ngobrol soal kursi Kapolri. Bukan karena kursinya patah, bukan pula karena rodanya macet. Penghuninya saja yang berganti. Simak narasinya dan jangan lupa minum dulu kopinya, Bang!
Jenderal Listyo Sigit Prabowo resmi diganti. Presiden Prabowo Subianto mengirim Surat Presiden ke DPR, lalu Komjen Pol Suyudi Ario Seto disetujui menjadi Kapolri baru.
Yang menarik, Sigit belum masuk usia pensiun. Umurnya 57 tahun. Batas pensiun Polri 58 tahun. Bahkan ada wacana diperpanjang menjadi 60 tahun.
Lalu kenapa diganti?
Puan Maharani menjawab singkat, “Sudah waktunya.”
Nah, ini kalimat yang membuat kopi terasa kurang manis.
Sudah waktunya apa? Waktu makan? Waktu tidur? Waktu ganti kapolri? Wallahu a’lam. Kalendernya mungkin hanya Puan yang pegang.
Versi resminya, pergantian ini untuk regenerasi dan penyegaran. Masuk akal. Organisasi sebesar Polri memang perlu penyegaran. Ibarat rumah, sesekali jendela dibuka supaya udara baru masuk. Cuma kita tentu berharap bukan sekadar mengganti gorden, sementara debunya masih di bawah karpet.
Suyudi bukan orang baru. Kariernya panjang. Ia pernah menjadi Kapolres, Dirreskrimum, pejabat Bareskrim, Wakapolda Metro Jaya, Kapolda Banten, hingga Kepala BNN.
Di BNN, ia juga membawa catatan pemberantasan narkotika. Pada 2026, BNN menyebut telah menyita 12,3 ton barang bukti narkotika dan menghentikan nilai ekonomi peredaran narkotika hingga Rp16,5 triliun.
Kalau ini operasi pembersihan, sapunya agak unik.
Sapunya pernah tinggal di rumah yang mau disapu.
Tapi begitulah birokrasi. Orang yang sudah lama berada di dalam sistem justru sering dipilih untuk memperbaiki sistem. Ibarat montir yang diminta membetulkan mesin yang sudah lama ia kenal. Keuntungannya, ia tahu letak bautnya. Tantangannya, ia juga tahu bunyi mesin yang selama ini berisik.
Proses menuju kursi Kapolri baru pun berlangsung cepat. Surpres dikirim, Komisi III DPR melakukan fit and proper test, lalu persetujuan diberikan secara aklamasi.
Durasi uji kelayakannya disebut sekitar 22 menit.
Melamar kerja di perusahaan saja kadang lebih lama. Tetapi sekali lagi, yang penting bukan stopwatch-nya. Yang lebih penting adalah apa yang ditanyakan, apa yang dijawab, dan bagaimana pertanggungjawabannya setelah seseorang duduk di kursi kekuasaan.
Kini kursi Kapolri berganti penghuni.
Sigit meninggalkan jabatan. Suyudi datang membawa pengalaman panjang dan pekerjaan rumah yang juga panjang.
Sebab mengganti kapten kapal mungkin bisa dilakukan dalam sehari.
Tetapi memperbaiki kapal, menjaga arah pelayaran, dan memastikan penumpangnya merasa aman, itu pekerjaan yang tidak selesai hanya dengan upacara pelantikan.
Jadi, Bang, kopi kita habiskan dulu.
Kapolri boleh berganti.
Tetapi harapan masyarakat jangan sampai ikut berganti setiap kali pejabat berganti.












