TOMBAKOPINI: IAB
Bang, seruput dulu kopinya. Pelan-pelan saja.
Jangan sampai kopi belum dingin, kita sudah ikut panas membaca kabar terbaru tentang Orangutan Tapanuli. Berdasarkan survei populasi periode 2021–2023 yang diumumkan Kementerian Kehutanan, satwa endemik Sumatra Utara ini diperkirakan tinggal 716 individu.
Waduh, Bang!
716 itu bukan jumlah penonton pertandingan sepak bola. Itu perkiraan jumlah makhluk hidup yang masih tersisa. Mereka tersebar di bentang alam Batang Toru seluas 102.185 hektare. Sekitar 514 berada di Batang Toru Barat, 159 di Timur, dan 43 di kawasan Sitandiang–Sibualbuali.
Kalau manusia melihat angka 716, mungkin bilang, “Masih ada.” Tetapi bagi konservasi, angka sekecil itu justru lampu merah yang berkedip-kedip.
Masalahnya bukan cuma jumlah. Rumah mereka juga terpecah. Hutan menyusut karena alih fungsi lahan, perambahan, pembangunan infrastruktur, ditambah ancaman banjir dan longsor. Orangutan pun kadang turun ke kebun warga mencari makanan.
Di sinilah kita perlu berhenti sebentar.
Ketika orangutan masuk kebun durian, petai atau rambutan, kita sering berkata, “Itu orangutan masuk ke wilayah manusia.”
Tapi coba dibalik.
Jangan-jangan manusia yang lebih dulu masuk ke wilayah orangutan.
Bayangkan rumah kita dipreteli sedikit demi sedikit. Dinding dibongkar, jalan dibangun di tengah ruang tamu, dapur dipindahkan, lalu suatu hari kita keluar mencari makanan. Eh, malah dimarahi karena masuk pekarangan orang.
Waduh, Bang. Orangutan pun mungkin bingung.
Karena itu, rescue memang penting. Kalau ada orangutan terluka atau terjebak, masa kita suruh menunggu sambil minum kopi? Tidak mungkin. Tim penyelamat harus bergerak.
Tetapi rescue seharusnya bukan satu-satunya jawaban.
Pertanyaan yang lebih penting: mengapa orangutan sampai harus diselamatkan?
Jawabannya membawa kita kepada strategi baru konservasi. Kementerian Kehutanan sedang menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Orangutan Tapanuli hingga 2045. Salah satu gagasannya adalah membangun koridor ekologis agar populasi yang terfragmentasi tetap terhubung.
Ada pula jembatan arboreal. Jalan layang khusus orangutan. Manusia punya jalan tol, orangutan diberi jalan gantung. Bedanya, orangutan tidak pernah mengeluh tarifnya mahal.
Jembatan kanopi ini penting agar satwa dapat berpindah tanpa turun ke tanah atau kebun warga.
Namun pembangunan koridor saja tidak cukup. Lebih dari 70 persen habitat orangutan berada di luar kawasan konservasi resmi. Artinya, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi, LSM dan media harus duduk satu meja.
Petani juga jangan diposisikan sebagai musuh. Kebun adalah sumber hidup mereka. Kalau tanaman rusak, perut tidak bisa kenyang hanya dengan nasihat konservasi.
Karena itu, insentif, kompensasi, restorasi habitat, penanaman pohon pakan dan penguatan ekonomi masyarakat harus berjalan bersama.
Desa-desa seperti Aek Haminjon, Luat Lombang dan Bulu Mario mengingatkan kita bahwa konflik manusia dan orangutan bukan sekadar urusan satwa. Ini urusan ruang hidup.
Jadi, jangan hanya bertanya bagaimana menyelamatkan 716 orangutan.
Tanyakan pula: berapa luas hutan yang harus kita selamatkan agar 716 itu tidak berubah menjadi 700, 600, lalu angka yang tinggal dikenang?
Target 2045 bukan sekadar membuat dokumen bagus di atas meja.
Harapannya sederhana: ketika cucu kita nanti bertanya tentang Orangutan Tapanuli, kita tidak menjawab, “Dulu pernah ada.”
Kita bisa bilang, “Masih ada. Dan hutannya juga masih ada.”
Nah, Bang. Kopinya boleh habis. Tapi jangan sampai hutannya ikut habis.












