TOMBAKOPINI: IAB
Bang, seruput dulu kopinya. Pelan-pelan saja. Hari ini kita membahas tiga jari yang bikin suasana politik ikut panas. Bukan tiga jari untuk menghitung utang di warung kopi, bukan pula kode memesan tiga gelas kopi sekaligus. Ini tiga jari yang terangkat di Tugu Tani, Jakarta Pusat, Selasa, 20 Oktober 2026. Mahasiswa dan masyarakat sipil turun ke jalan, bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Koordinator Sosial dan Politik BEM UI, Hafidz Hernanda, menyebut tiga jari itu sebagai lambang kemarahan, kekecewaan, dan perlawanan terhadap pemimpin yang dinilai gagal.
Waduh, Bang! Baru dua tahun, rapor pemerintahan sudah dibawa ke jalanan. Rupanya, ada mahasiswa yang merasa catatannya sudah menumpuk. Kalau rapor anak sekolah dibagikan di kelas, rapor pemerintah dibacakan di tengah demonstrasi. Bedanya, yang satu bikin murid deg-degan, yang satu lagi bisa bikin pejabat salah tingkah.
Tapi jangan salah sangka. Tiga jari ini bukan tren dadakan akibat kopi politik terlalu pahit. Simbol three-finger salute populer melalui film The Hunger Games, yang menggambarkan masyarakat di bawah kekuasaan otoriter. Dari layar bioskop, simbol itu kemudian menyeberang ke dunia nyata.
Demonstran Thailand menggunakannya setelah kudeta militer pada 2014. Gerakan pro-demokrasi di Myanmar dan Hong Kong juga menggunakan simbol ini untuk menyampaikan aspirasi.
Lucu juga, Bang. Biasanya orang keluar dari bioskop membawa cerita, tiket, atau kenangan harga popcorn yang bikin dompet menjerit. Ini malah ada yang membawa simbol film ke jalanan. Rupanya, tontonan bisa berubah menjadi bahan renungan, bahkan menjadi bahasa perlawanan.
Tiga jari itu dapat menyuarakan kebebasan, kesetaraan, dan solidaritas. Namun, maknanya tidak selalu sama di setiap tempat. Simbol memang bisa serupa, tetapi persoalan politik setiap negara berbeda. Jangan sampai melihat tiga jari langsung menyimpulkan semua orang punya tuntutan yang sama.
Di Indonesia, gestur itu digunakan mahasiswa sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah. Tak perlu spanduk sepanjang jalan atau pidato setebal kamus. Cukup angkat tangan, jepret kamera, unggah ke media sosial. Dalam hitungan menit, pesan bisa berkeliling lebih cepat daripada kabar gorengan gratis di grup WhatsApp.
Namun, Bang, tiga jari yang terangkat bukan berarti seluruh rakyat memiliki pendapat seragam. Itu adalah ekspresi kelompok yang sedang menyampaikan sikap. Demokrasi memang menyediakan ruang bagi kritik, sekaligus ruang untuk menguji setiap pernyataan dengan fakta.
Dua tahun pemerintahan ibarat perjalanan kendaraan. Mesin boleh menderu, klakson boleh nyaring, tetapi penumpang tetap ingin tahu: sudah sampai mana perjalanan ini?
Rakyat tentu tidak cukup diberi penjelasan tentang tujuan. Mereka juga ingin melihat hasilnya. Bagaimana harga kebutuhan pokok? Bagaimana lapangan kerja? Bagaimana pelayanan publik? Apakah janji-janji mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari?
Demonstrasi memang berisik. Tetapi alarm kebakaran juga berisik, Bang. Kalau terdengar bunyi alarm, masa yang disalahkan malah alarmnya? Mestinya diperiksa dulu, ada asap atau tidak. Begitu pula kritik, perlu didengar, diperiksa, lalu dijawab dengan data dan tindakan nyata.
Pemerintah tak harus menyetujui semua tuntutan demonstran. Namun, mendengarkan kritik berbeda dengan menyerah kepada kritik. Sebab pujian belum tentu membuktikan keberhasilan, sebagaimana kritik tidak otomatis membuktikan kegagalan.
Nah, Bang, kopi kita mulai dingin. Jangan sampai kopi saja boleh dipanaskan kembali, sedangkan persoalan rakyat dibiarkan dingin berbulan-bulan.
Tiga jari hari ini mungkin turun besok. Tangan yang sama kembali memegang buku, bekerja, dan mencari nafkah. Tetapi pertanyaan yang mereka suarakan tidak otomatis ikut turun.
Jadi, jangan cuma menghitung berapa jari yang terangkat. Hitung juga berapa persoalan rakyat yang berhasil diselesaikan. Sebab dalam demokrasi, kekuasaan bukan perlombaan mengumpulkan tepuk tangan. Yang lebih penting adalah menjawab kepercayaan publik dengan kerja nyata.
Seruput lagi kopinya, Bang. Kita tunggu, apakah alarm dari jalanan akan didengar sebagai pengingat, atau hanya dianggap kebisingan yang mengganggu tidur siang.












