OPINI & ANALISISSOCIAL & BUDAYA

Buah Anti Kiamat Ternyata Tumbuh di Indonesia, Namanya Sukun

126
×

Buah Anti Kiamat Ternyata Tumbuh di Indonesia, Namanya Sukun

Sebarkan artikel ini

TOMBAKOPINI: IAB

 

Buah Anti Kiamat Ternyata Tumbuh di Indonesia, Namanya Sukun tanaman ajaib dari negeri dongeng. Namanya sederhana saja: sukun. Ya, buah yang sering kita lihat bergelantungan di pohon tinggi. Kadang jatuh sendiri tanpa permisi, lalu berakhir di dapur menjadi sukun goreng yang kriuknya bikin warung kopi tambah ramai.

Sukun tumbuh dari pohon besar yang masih satu keluarga dengan nangka dan cempedak. Bentuknya bulat agak lonjong dengan kulit hijau sedikit berduri halus. Kalau dibelah, dagingnya putih kekuningan. Setelah dimasak, teksturnya lembut dan rasanya gurih sedikit manis. Bisa digoreng, direbus, dikukus, dipanggang, bahkan dijadikan keripik. Singkatnya, buah ini fleksibel. Mau dijadikan camilan bisa, mau jadi makanan berat juga bisa.

Yang menarik, sukun bukan hanya enak. Buah ini kaya karbohidrat sebagai sumber energi, mengandung serat yang baik untuk pencernaan, serta vitamin C dan berbagai mineral penting bagi tubuh. Satu pohon sukun juga terkenal produktif. Dalam satu musim saja, pohon ini bisa menghasilkan banyak buah. Itulah sebabnya, sejak lama sukun sering dianggap sebagai salah satu sumber pangan alternatif yang murah dan mengenyangkan di daerah tropis.

Baca Juga  Ketika Penerima Beasiswa LPDP Terseret dalam Pusaran Perdebatan Nasionalisme

Popularitas sukun ternyata sudah terdengar sampai ke telinga orang Eropa sejak ratusan tahun lalu. Pada masa penjelajahan samudra, mereka sering mendengar cerita tentang buah tropis yang sangat bergizi dan bisa mengenyangkan banyak orang. Masalahnya, buah itu tidak pernah tumbuh di wilayah Eropa yang dingin. Jadilah buah tersebut seperti legenda—sering dibicarakan, tapi tak pernah dilihat.

Sampai akhirnya pada tahun 1686, seorang penjelajah Inggris bernama William Dampier berlayar ke kawasan Pasifik dan singgah di Guam. Di sana ia melihat buah aneh yang belum pernah ia temui sebelumnya. Buah itu tumbuh di pohon besar, dan ketika dibelah… hampir tidak ada bijinya.

Dampier kemudian mencoba memanggangnya. Hasilnya mengejutkan. Rasanya mirip roti panggang. Karena itulah ia menamainya breadfruit, atau buah roti. Dalam catatannya yang kemudian diterbitkan dalam buku A New Voyage Round the World tahun 1697, Dampier menulis bahwa buah ini lezat, mengenyangkan, dan bahkan bisa membantu mengatasi kelaparan.

Baca Juga  Profit sharing Warung Madura 24 Jam: Jalan Sunyi Pengentasan Kemiskinan.

Cerita Dampier membuat orang Eropa makin penasaran. Seorang ilmuwan Belanda bernama Georg Eberhard Rumphius juga menulis tentang keajaiban sukun dalam karyanya Herbarium Amboinese. Ia menggambarkan buah ini sebagai makanan bernutrisi tinggi yang bisa menjadi penyelamat di masa sulit.

Namun rasa penasaran saja tidak cukup. Perlu waktu lama sampai akhirnya sukun benar-benar dibawa keluar dari kawasan tropis. Pada akhir abad ke-18, penjelajah terkenal James Cook bersama ahli botani Joseph Banks mulai meneliti tanaman ini. Banks bahkan meyakinkan Raja Inggris George III bahwa sukun bisa menjadi sumber makanan murah dan bergizi di berbagai koloni Inggris.

Akhirnya bibit sukun dibawa ke berbagai wilayah tropis lain seperti Karibia dan Amerika Tengah. Dari situlah pohon sukun mulai menyebar ke banyak bagian dunia.

Menariknya, apa yang dulu hanya berdasarkan cerita para pelaut kini dibuktikan oleh penelitian modern. Banyak studi menunjukkan bahwa sukun memang sangat bergizi. Kandungan vitamin C, potasium, magnesium, dan seratnya cukup tinggi, sementara kadar lemak dan gula relatif rendah.

Baca Juga  Ketika Anak Bupati Borong Jabatan Ketua Organisasi: Kompetensi, Demokrasi, dan Stempel Nepotisme

Tidak hanya itu, para peneliti juga mulai menyebut sukun sebagai superfood. Alasannya sederhana: pohon ini cepat berbuah, tidak membutuhkan perawatan rumit, tahan terhadap cuaca ekstrem, dan mampu menghasilkan banyak makanan dari satu pohon saja.

Di tengah kekhawatiran dunia terhadap krisis pangan dan perubahan iklim, sukun kembali dilirik sebagai salah satu solusi masa depan. Ironisnya, buah yang dulu membuat bangsa Eropa berlayar ribuan kilometer justru sering kita anggap biasa saja.

Padahal bisa jadi, di halaman rumah kita atau di belakang rumah tetangga, sedang tumbuh pohon yang diam-diam menyimpan potensi besar untuk memberi makan banyak orang.

Jadi kalau suatu hari Anda melihat buah sukun jatuh dari pohonnya, jangan langsung berpikir itu cuma bahan gorengan. Siapa tahu, itulah “pohon anti kiamat pangan” yang sudah lama tumbuh santai di kampung kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *