OPINI & ANALISIS

Dilema PILKADES: Antara Harapan, Program, dan Realitas

20
×

Dilema PILKADES: Antara Harapan, Program, dan Realitas

Sebarkan artikel ini

TOMBAKOPINI: Nendra

 

Di setiap musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades), warga desa selalu dihadapkan pada pertanyaan yang sama Siapa yang paling layak memimpin?

 

Di satu sisi, ada harapan besar yang dititipkan warga. Mereka menginginkan pemimpin yang jujur, merakyat, mau mendengar, dan hadir di tengah masyarakat, bukan hanya muncul saat masa kampanye. Sosok pemimpin ideal itu digambarkan sebagai figur yang mampu merangkul semua golongan, tanpa membeda-bedakan pendukung dan bukan pendukung.

 

Di sisi lain, ada program-program yang dijanjikan para calon. Mulai dari pembangunan infrastruktur jalan dan irigasi, pemberdayaan UMKM dan petani, transparansi dana desa, hingga pelayanan administrasi yang lebih cepat dan mudah. Semua program itu terdengar menjanjikan di atas panggung orasi, namun warga kini semakin kritis. Mereka tidak lagi hanya mendengar janji, tetapi menagih bukti dan rekam jejak.

Baca Juga  Jangan Jadikan Kendal Rumah Aman Bagi Penyimpangan

 

Di sinilah letak dilemanya. Antara harapan yang tinggi, program yang muluk, dan realitas di lapangan yang sering kali tidak seindah yang dijanjikan.

 

Sebagian warga mengaku bingung memilih. Ada calon yang dikenal baik secara pribadi, namun diragukan kemampuannya mengelola pemerintahan desa. Ada calon yang memiliki program bagus dan pengalaman birokrasi, namun dinilai jauh dari masyarakat. Ada pula calon yang populer karena kedekatan sosial, namun belum teruji dalam memimpin dan mengelola anggaran.

Baca Juga  Dana Desa Dijadikan Jaminan? Menguliti Proyek Kopdes Merah Putih.

 

Situasi ini semakin kompleks ketika Pilkades dibayangi isu politik uang, polarisasi antar pendukung, hingga tekanan dari kelompok-kelompok kepentingan. Jika warga salah memilih, dampaknya akan dirasakan selama delapan tahun ke depan. Pembangunan bisa tersendat, pelayanan bisa tidak adil, dan kerukunan warga bisa retak.

 

Namun, Pilkades juga menjadi momentum penting bagi demokrasi desa. Di balai desa, di warung kopi, hingga di grup WhatsApp warga, diskusi tentang masa depan desa semakin hidup. Warga mulai membandingkan visi-misi, menanyakan sumber dana program, hingga mengajak calon berdialog langsung.

Baca Juga  Ada yang Salah Ketika AD/ART Dilanggar oleh Kesepakatan dan Keputusan Koordinasi

 

Pesan yang kini terus digaungkan adalah ajakan untuk menggunakan hak pilih dengan bijak dan bertanggung jawab. Bukan memilih karena iming-iming sesaat, bukan karena tekanan, melainkan karena keyakinan bahwa sosok tersebut mampu membawa desa menjadi maju, masyarakat sejahtera, dan demokrasi yang berkualitas.

 

Karena pada akhirnya, Pilkades bukan sekadar tentang siapa yang menang. Ini tentang desa kita, dan masa depan kita.

Penulis: NendraEditor: Emhape