TOMBAKOPINI: IAB
Bang, kalau datang ke Festival Kopi Tanah Para Raja di Waterfront City Pangururan, Samosir, jangan bawa hidung yang penakut. Baru beberapa langkah memasuki arena festival yang menjadi bagian dari Festival Tao Toba Jou-Jou 2026 itu, aroma kopi sudah menyerbu tanpa permisi. Wanginya bukan lagi sekadar mengundang, melainkan seperti debt collector yang sudah hafal alamat rumah. Mau pura-pura tidak kenal, akhirnya berhenti juga di depan secangkir kopi.
Pagi itu, Jumat (7/8/2026), niat saya sebenarnya sederhana. Berjalan santai melihat kopi-kopi terbaik Sumatera Utara. Tapi rupanya kaki punya agenda sendiri. Ia berbelok begitu saja ke Stand Sipirok Specialty Coffee Community. Memang begitulah kaki. Kadang lebih bijaksana daripada kepala. Kepala sibuk membuat rencana, kaki diam-diam mencari kebahagiaan.
“Segelas kopi tubruk, Dek,” pinta saya.
Tak lama, secangkir kopi hitam pekat mendarat di meja. Tidak ada busa setinggi gengsi. Tidak ada gambar hati yang lebih pantas dipajang daripada diminum. Kopi tubruk memang tidak pandai bersolek. Ia tampil apa adanya. Jujur. Semua minyak dan sari kopi hadir tanpa sensor. Andai manusia sejujur kopi tubruk, mungkin media sosial kehilangan separuh isinya.
Seruput pertama langsung membangunkan mata yang sejak subuh dipaksa bekerja. Pahitnya mantap, tetapi bersahabat. Keasamannya rendah. Lalu datang rasa cokelat, rempah, jahe, dan sereh yang saling menyapa dengan sopan di lidah. Dominasi earthy-nya membuat saya seperti sedang duduk di tengah kebun kopi selepas hujan. Semua rasa hidup berdampingan tanpa saling berebut panggung. Jauh lebih damai daripada rapat yang kadang lebih banyak interupsi daripada keputusan.
Di sekeliling saya, suara grinder bersahutan dengan tawa pengunjung. Aroma kopi bercampur semilir angin dari Danau Toba. Barista sibuk menyeduh, petani sibuk bercerita, sementara para pencinta kopi sibuk mencari rasa yang paling berkesan. Festival ini bukan sekadar tempat minum kopi. Ia seperti ruang temu antara alam, budaya, kerja keras, dan harapan.
Kopi Arabika Sipirok sendiri bukan pemain kemarin sore. Sejak sekitar tahun 1839, kopi ini telah dibudidayakan pada masa Kerajaan Siregar Akkola Dolok dan diperdagangkan hingga ke Belanda. Jauh sebelum orang mengenal istilah healing, work from café, atau berburu kafe estetik, masyarakat Sipirok sudah lebih dulu menikmati kopi yang kualitasnya tidak membutuhkan pencahayaan bagus untuk memikat hati.
Keistimewaannya lahir dari dataran tinggi Sipirok pada ketinggian sekitar 1.200–1.300 meter di atas permukaan laut, di kawasan penyangga Cagar Alam Sibual-buali. Udara pegunungan yang dingin, tanah vulkanik yang subur, embun yang setia turun setiap pagi, dan kesabaran petani melahirkan cita rasa yang sulit dicari tandingannya. Kini kebunnya tersebar di Sipirok, Saipar Dolok Hole, Arse, Angkola Timur, Angkola Barat, Aek Bilah, hingga Marancar.
Pada Februari 2018, Kopi Arabika Sipirok memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis. Artinya, kopi ini punya identitas yang dijaga bersama. Di balik setiap cangkirnya tersimpan nama baik ribuan petani yang bekerja sejak matahari belum tinggi hingga senja kembali pulang.
Ketika cangkir itu kosong, saya justru merasa penuh. Penuh rasa syukur, penuh kebanggaan, dan penuh keyakinan bahwa kopi terbaik bukan yang paling mahal atau paling viral. Kopi terbaik adalah kopi yang sanggup membuat kita lupa menggenggam ponsel, lalu kembali mengingat tanah yang melahirkannya.
Jadi, Bang, kalau nanti singgah ke Danau Toba, jangan hanya membawa pulang foto. Bawalah juga kenangan dari secangkir Kopi Arabika Sipirok. Sebab kadang, cinta pada sebuah daerah tidak lahir dari pemandangan yang megah, melainkan dari aroma kopi yang mengepul pelan dan menetap lama di hati.












