OPINI & ANALISIS

Indonesia Paling Gampang Tertipu: Fakta Pahit Buat Kening Mengernyit

101
×

Indonesia Paling Gampang Tertipu: Fakta Pahit Buat Kening Mengernyit

Sebarkan artikel ini

Oleh : Irwan Alimuddin Batubara, S. Sos. 

 

Tombakrakyat.com— Tadi siang kuping saya panas bukan karena matahari, tapi karena dengar cerita orang kena tipu lewat WA—modusnya halus, suaranya meyakinkan, dompetnya yang akhirnya menangis. Miris? Iya. Kocak? Kalau sudah lewat, kadang iya juga, pahit-manis kayak kopi tubruk kebanyakan ampas. Maka sore ini kita bahas tipu-menipu dulu, tapi santai aja—ups, jangan lupa minum kopinya dulu. Seruput pelan, tarik napas, jangan reaktif, karena yang mau kita obrolin bukan gosip receh ala grup keluarga, melainkan fakta-fakta yang bikin kening berkerut sambil nyengir kecut: ternyata yang nipu makin pinter, sementara kita sering kepedean merasa “ah, saya mah nggak mungkin ketipu.”

 

Menurut Global Fraud Index 2025 rilisan Sumsub, dunia lagi-lagi ramai bukan karena prestasi, tapi karena tipu-menipu. Indeks ini mengukur seberapa rentan suatu negara terhadap penipuan—mulai dari perlindungan sistem, regulasi digital, sampai kesiapan menghadapi scam. Skor makin tinggi, makin gampang ketipu.

Baca Juga  KUHP–KUHAP–UUTPKS: Trinitas Hukum yang Katanya Melindungi, Tapi Lebih Sering Mengawasi Tubuh Perempuan

Dan hasilnya?

Pakistan di posisi puncak dengan skor 7,48.

Indonesia menyusul manis di urutan dua dengan skor 6,53.

Disusul Nigeria, India, dan kawan-kawan.

Artinya apa?

Bukan berarti orang Indonesia kurang cerdas. Jangan salah paham. Kita pintar, kreatif, dan inovatif. Tapi sayangnya, sering kali terlalu ramah pada segala sesuatu yang kelihatan “resmi” dan “mendesak”. Nomor tak dikenal pakai foto logo bank? Langsung dipercaya. Pesan “akun Anda diblokir”? Panik dulu, mikir belakangan.

Ironisnya, negara-negara dengan perlindungan digital paling kuat—seperti Luksemburg, Denmark, Finlandia, Norwegia, dan Belanda—justru santai. Skor mereka rendah, sistemnya rapat. Bukan karena warganya parno, tapi karena negara dan platformnya sigap.

 

Di negeri-negeri yang rentan ditipu, termasuk kita, pola scam-nya itu-itu juga.

Baca Juga  Minuman BerALKOHOL Dijual di Pemukiman, Warga Diam : Siapa Sebenarnya yang Sedang Merusak Lingkungan?

• Phishing: SMS atau WA ngaku bank, kurir, atau instansi. Link diklik, data disedot, saldo pamit tanpa upacara.

• Investasi bodong: Janji cuan cepat, risiko katanya nol. Biasanya pakai kostum kripto, robot trading, atau saham luar negeri.

• Love scam: Kenal di medsos, akrab kilat, lalu minta transfer. Cintanya jarak jauh, dompetnya dijauhkan permanen.

• Marketplace palsu: Harga miring bikin iman goyah. Setelah transfer, penjual menghilang kayak mantan yang sudah move on.

• Impersonasi atasan atau pejabat: Nada mendesak, minta “tolong transfer sekarang”. Bos asli jarang begitu. Yang begitu biasanya masalah.

Masalahnya, ini bukan cuma soal individu lengah. Ini soal ekosistem digital yang bocor. Scammer kerja 24 jam, literasi digital kerja kalau ada seminar. Itu pun kalau datang. Platform digital kadang cuci tangan, penegakan hukum sering datang belakangan, sementara korban sudah keburu malu dan diam.

Baca Juga  Menakar Ulang Pengawasan Proyek Daerah,Generasi Z dan Aktivis Jateng Dorong Transparansi "2026"

 

Padahal, biar nggak jadi korban, jurusnya sederhana.

Jangan reaktif—verifikasi dulu.

Ada pesan mendesak? Stop. Tarik napas. Cek ulang.

Jangan klik link sembarangan. Bank dan instansi resmi jarang kirim link random.

Pakai logika, bukan cuma janji. Kalau terlalu indah untuk jadi kenyataan, biasanya memang tipu-tipu.

Pisahkan rekening utama dan transaksi online. Biar kalau apes, kerugiannya nggak sekalian hidup.

 

Di era digital, yang pintar bukan cuma yang cepat, tapi yang sabar dan curiga secukupnya. Karena sekarang, yang ditipu bukan cuma dompet—tapi juga rasa percaya.

 

Kopinya mungkin sudah habis.

Tapi ceritanya belum.

Besok, bisa jadi pesan itu masuk lagi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *