OPINI & ANALISISTECHNOLOGI & PENDIDIKAN

Merajut Benang Merah kurikulum Merdeka : Kajian Pemikiran Hamka dan perspektif Lembaga Litbang

360
×

Merajut Benang Merah kurikulum Merdeka : Kajian Pemikiran Hamka dan perspektif Lembaga Litbang

Sebarkan artikel ini

Oleh ; M.Fathurahman

Opening

Revolusi pendidikan melalui Kurikulum Merdeka merupakan upaya transformatif yang berpotensi menyelaraskan pandangan pendidikan holistik tokoh bangsa seperti HAMKA dengan kebutuhan riset lembaga modern seperti Litbang LP3I Indonesia dan Pijar Indonesia. Gagasan “merdeka” dalam kurikulum ini sejalan dengan cita-cita kemandirian intelektual dan spiritual yang ditekankan oleh para pemikir terdahulu, sekaligus menjawab tantangan zaman berdasarkan analisis data kontemporer.

Perspektif HAMKA: Fondasi Akhlak dan Kemandirian

Kajian literasi terhadap pemikiran Prof. DR. HAMKA menunjukkan bahwa pendidikan harus melampaui sekadar pengetahuan teoretis; tujuannya adalah membentuk watak, akhlak, dan menciptakan manusia yang mandiri (merdeka) secara utuh.

Pendidikan Karakter: HAMKA menekankan pentingnya pendidikan agama dan moral sebagai benteng terhadap kehidupan sekuler, yang relevan dengan fokus Kurikulum Merdeka pada Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang mengedepankan nilai-nilai karakter bangsa.

Baca Juga  Guru Honorer Dianaktirikan, Pegawai SPPG Diistimewakan: Negara Sedang Tidak Adil?

Kemandirian Intelektual :

tentang mencetak generasi yang cakap dalam berbagai bidang agar tidak menjadi “budak di negeri yang kaya” sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang memberikan keleluasaan pada siswa untuk mengembangkan potensinya sesuai minat dan bakat, memupuk kemandirian, dan berpikir kritis .

 

Analisis Lembaga Litbang: Kesiapan dan Tantangan Implementasi

Di sisi lain, analisis dari lembaga penelitian seperti Litbang LP3I Indonesia dan Pijar Indonesia memberikan perspektif berbasis data mengenai realitas di lapangan.

Pijar News, misalnya, menyoroti relevansi Kurikulum Merdeka dengan masa depan pendidikan, namun juga mengidentifikasi tantangan signifikan.

Baca Juga  Mewujudkan Akuntabilitas Dan Efisiensi Pelayanan Desa Melalui Inovasi Digital SainDesa

Kesenjangan Infrastruktur: Hasil penelitian umum sering menunjukkan bahwa sarana dan prasarana yang belum menunjang, terutama dalam penggunaan teknologi, menjadi kendala dalam implementasi yang merata.

Kesiapan SDM Guru: Peningkatan kompetensi guru dalam metode pembelajaran baru dan pemanfaatan teknologi merupakan isu krusial yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah.

Fleksibilitas Positif: Meskipun demikian, lembaga-lembaga ini juga mencatat dampak positif berupa keleluasaan guru dalam merancang materi yang sesuai konteks siswa, yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan secara merata.

Keselarasan Visi: Menyatukan Cita-cita dan Realitas
Kesimpulannya, revolusi pendidikan melalui Kurikulum Merdeka adalah sebuah keniscayaan historis yang mempertemukan visi idealis para pendahulu seperti HAMKA dengan tuntutan zaman modern yang dianalisis oleh lembaga litbang.

Baca Juga  DLH Kota Semarang Kebut Persiapan Dokumen Lelang Proyek PSEL Semarang-Kendal Senilai Rp3 Triliun

Visi HAMKA memberikan kompas moral bahwa “merdeka belajar” harus berakar pada akhlak dan kemandirian hakiki, bukan sekadar kebebasan tanpa arah. Sementara itu, kajian LP3I dan Pijar Indonesia mengingatkan kita bahwa implementasi nyata memerlukan solusi konkret atas isu kesenjangan infrastruktur dan peningkatan kualitas guru.

Untuk mencapai revolusi sejati, pemerintah perlu memastikan bahwa semangat “merdeka” ini didukung oleh ekosistem pendidikan yang adil dan merata di seluruh pelosok negeri, memastikan cita-cita HAMKA untuk mencetak manusia berilmu dan berakhlak dapat terwujud secara optimal.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

OPINI & ANALISIS

TOMBAKOPINI: IAB   Seruput dulu kopinya, Bang. Jangan…