TOMBAKOPINI: IAB
Bang, sebelum membaca tulisan ini, seruput dulu kopinya. Sebab kali ini kita mau bicara soal angka seribu. Bukan seribu rupiah, bukan seribu langkah, apalagi seribu alasan untuk tidak bekerja. Ini soal Kabupaten Tapanuli Selatan yang belakangan seperti sedang jatuh cinta kepada angka seribu.
Bupatinya bernama H. Gus Irawan Pasaribu. Marganya Pasaribu. Nah, di sinilah cerita mulai menarik. Pasaribu, seribu. Entah kebetulan atau memang sudah dirancang dari sononya, entahlah. Yang jelas, program pemerintahannya juga ikut-ikutan serba seribu.
Ada Gerakan Seribu Kolam. Ada Seribu Hektare Jagung. Sekarang muncul Seribu Kandang Ayam Petelur.
Lengkap sudah. Ikan ada, jagung ada, ayam juga ada. Tinggal tunggu siapa yang menggorengnya. Hehehe…
Tapi jangan salah. Di balik candaan itu, program-program tersebut punya tujuan serius. Gerakan Seribu Kolam, misalnya, bukan sekadar menggali lubang lalu diisi air dan ikan. Program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan, menyediakan sumber protein, membuka pendapatan baru dan menggerakkan ekonomi masyarakat desa.
Maklum, produksi ikan Tapsel sebelumnya baru mampu memenuhi sekitar separuh kebutuhan masyarakat yang mencapai lebih dari 15 ribu ton per tahun.
Hebatnya, program ini bahkan membawa nama Tapsel sampai Jakarta. Pada 2025, Tapsel meraih peringkat terbaik pertama Indonesia’s SDGs Action Awards. Gerakan Seribu Kolam mendapat apresiasi karena menghubungkan pangan, gizi, ekonomi masyarakat, pembangunan desa dan lingkungan.
Berarti ikan Tapsel bukan cuma bisa berenang di kolam.
Sudah berenang sampai Jakarta!
Kemudian ada Gerakan Seribu Hektare Jagung. Lahan tidur dibangunkan supaya produktif. Jagung bukan hanya untuk dijual, tetapi juga bisa menjadi bahan baku pakan ternak.
Nah, di sinilah program seribu mulai terlihat seperti keluarga besar.
Jagung menjadi pakan. Pakan menjadi makanan ayam. Ayam menghasilkan telur. Telur masuk pasar, termasuk peluang untuk kebutuhan MBG. Limbahnya bisa diolah menjadi pupuk.
Jagung, ayam, telur, ikan. Semua saling berkaitan.
Kalau dikelola serius, bukan hanya programnya yang seribu. Sumber penghasilannya juga bisa beribu-ribu.
Sekarang muncul pula Gerakan Seribu Kandang Ayam Petelur. Produksi telur lokal disebut baru sekitar 10 persen dari kebutuhan daerah. Artinya, peluang ekonominya memang masih sangat besar.
Tetapi kandang jangan hanya banyak.
Ayamnya harus sehat. Pakannya tersedia. Produktivitasnya tinggi. Pasarnya jelas. Peternaknya untung.
Jangan sampai kandangnya seribu, ayamnya seribu, tetapi peternaknya cuma kebagian bau kandang.
Bupatinya Pasaribu boleh membawa angka seribu. Wakilnya, H. Jafar Syahbuddin Ritonga, marganya Ritonga, ditengah. Setidaknya ada warna berbeda di tengah pesta serba seribu ini.
Namun, Bang, di tengah meriahnya pesta angka seribu, ada satu yang jangan sampai terlupakan.
Kopi.
Tapanuli Selatan punya Kopi Arabika Sipirok. Kopi ini memiliki sejarah, identitas dan perlindungan geografis melalui MPIG Kopi Tapanuli Selatan. Namanya punya cerita. Rasanya punya karakter. Petaninya juga punya harapan.
Maka, minimallah, di tengah Seribu Kolam, Seribu Hektare Jagung dan Seribu Kandang Ayam, berikan juga ruang untuk program kopi.
Jangan sampai Kopi Sipirok bertanya:
“Bang, saya ini anak siapa? Kok saudara-saudara saya semua dapat program seribu, saya cuma disuruh menemani rapat?”
Hahaha…
Sebab pembangunan bukan sekadar menghitung berapa banyak program dibuat. Yang lebih penting adalah menghitung berapa banyak masyarakat yang penghasilannya bertambah.
Seribu kolam boleh penuh ikan. Seribu hektare boleh penuh jagung. Seribu kandang boleh penuh ayam. Tetapi ujungnya harus satu: seribu sumber penghasilan bagi masyarakat Tapanuli Selatan.
Dan kalau rapat pembangunan terlalu serius, Bang, jangan lupa kopi Sipirok. Biar pikiran tetap hidup dan program seribu tetap waras dihitung.
Untunglah wakil bupatinya tidak bermarga Napitupulu.
Kalau iya, bisa-bisa nanti Tapsel punya program Tujuh Puluh Ribu Kolam, Tujuh Puluh Ribu Hektare Jagung, dan Tujuh Puluh Ribu Kandang Ayam.
Waduh!
Seribu saja belum selesai, Bang. Jangan ditambah puluhan ribu lagi.
Seruput kopinya. Kita hitung pelan-pelan. Hahaha…












