TOMBAKOPINI: IAB
Bang, seruput dulu kopinya. Pelan-pelan saja. Jangan sampai kopinya belum dingin, kita sudah ikut panas membicarakan urusan negara.
Kali ini, ada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka datang ke Tapanuli Selatan, Jumat, 4 September 2026. Beliau datang bersama Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution dan Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu.
Bukan datang untuk menikmati pemandangan Batang Toru sambil bertanya, “Bang, durian paling enak di mana?”
Bukan.
Kali ini urusannya serius. Meninjau pemulihan warga korban banjir dan longsor November 2025.
Masalahnya, Bang, bencana itu kadang tidak ikut pulang ketika hujan berhenti.
Air memang sudah surut.
Lumpur sudah dibersihkan.
Tetapi rumah yang hanyut belum tentu langsung tumbuh lagi seperti jamur di musim hujan.
Jalan yang rusak tidak bisa sembuh sendiri. Jembatan yang terdampak tidak mungkin tiba-tiba bangun pagi lalu berkata, “Aku sudah sehat, silakan lewat.”
Begitu pula kehidupan warga.
Masih ada yang tinggal di hunian sementara. Nah, ini dia kata yang menarik perhatian kita: sementara.
Sementara itu berapa lama, Bang?
Seminggu?
Sebulan?
Setahun?
Atau jangan-jangan sampai kalender habis, percetakan kalender tutup, sementara huntaranya masih tetap bernama “sementara”?
Jangan sampai huntara lebih awet daripada masa pacaran.
Pacaran tiga tahun putus.
Huntara empat tahun masih bertahan.
Waduh. Ini namanya bukan hunian sementara lagi. Ini sudah hubungan tanpa kepastian.
Di Huntara Desa Napa, Gibran bertemu warga penyintas dari Desa Garoga dan Hutagodang. Keluhan mereka didengar. Hunian tetap belum tersedia, dan permohonan maaf pun disampaikan.
Meminta maaf tentu baik, Bang. Tidak ada yang salah dengan kata maaf.
Tetapi warga yang rumahnya hilang tentu berharap setelah kata maaf, ada suara lain yang lebih merdu.
Suara truk.
Bunyi alat berat.
Gedebuk batu.
Duk-duk palu.
Kretek-kretek besi.
Nah, itu musik pembangunan!
Sebab rumah tidak bisa berdiri hanya dengan kalimat, “Kami akan segera menindaklanjuti.”
Kalau rumah bisa berdiri karena kalimat, mungkin para tukang sudah pensiun dan cukup digantikan juru bicara.
Untungnya, ada kabar baik. Gibran memastikan pembangunan hunian tetap atau huntap akan segera dimulai pada September 2026.
Nah, warga tentu mendengar kata September dengan telinga yang lebih tajam daripada mendengar tukang bakso lewat depan rumah.
September, Bang!
Berarti tinggal menunggu pekerjaan dimulai.
Jangan sampai September lewat.
Oktober datang.
November melambaikan tangan.
Desember pasang lampu Natal dan tahun baru.
Eh, pondasinya masih menunggu rapat koordinasi.
Rapat memang penting. Sinkronisasi penting. Konsolidasi penting. Evaluasi juga penting.
Tetapi jangan sampai rapatnya begitu rajin, sampai yang dibangun hanya kesimpulan rapat.
Rombongan juga meninjau lokasi huntap di Hapesong Baru dan Jembatan Garoga. Jembatan itu penting, Bang. Bukan cuma untuk menghubungkan kampung dengan kampung.
Jembatan juga mengingatkan kita bahwa ada jarak antara janji dan kenyataan.
Dan jarak itu harus segera disambungkan.
Bagi warga, urusannya sebenarnya sederhana.
Rumah kapan jadi?
Air bersih kapan lancar?
Jembatan kapan selesai?
Mereka tidak terlalu pusing apakah itu rapat tingkat pusat, daerah, gabungan, khusus, terbatas, atau rapat sambil makan pisang goreng.
Yang penting, setelah rapat selesai, ada yang mulai bekerja.
Kunjungan Wakil Presiden tentu membawa harapan. Pemerintah sudah datang. Sudah melihat. Sudah mendengar. Sudah menyampaikan kepastian.
Sekarang tinggal satu yang paling ditunggu.
Realisasi.
Sebab bagi warga korban bencana, kunjungan pejabat memang penting. Tetapi suara alat berat yang mulai bekerja mungkin jauh lebih menenangkan daripada janji yang diputar ulang seperti lagu di warung kopi.
Bang, warga sudah cukup lama hidup dalam keadaan sementara.
Jangan biarkan hidup mereka ikut menjadi sementara.
Huntara harus tetap sementara.
Huntap harus segera nyata.
Dan nanti, ketika rumah sudah berdiri, jembatan pulih, air bersih mengalir, serta kehidupan kembali normal, barulah warga bisa duduk santai di teras rumah sambil menyeruput kopi.
Lalu berkata, “Nah, Bang… sekarang bolehlah kopinya diminum sampai habis.”












