OPINI & ANALISIS

Selamat Hari Orangutan Sedunia: Ketika “Orang” Masih Ada, Tapi “Utan” Terancam Hilang.

186
×

Selamat Hari Orangutan Sedunia: Ketika “Orang” Masih Ada, Tapi “Utan” Terancam Hilang.

Sebarkan artikel ini

TOMBAKOPINI: IAB

 

Bang, sebelum membaca tulisan ini, seruput dulu kopinya. Hari ini kita tidak sedang membahas politik, bukan pula kisah koruptor. Kita mau ngobrol tentang makhluk berbulu merah yang tinggal di hutan. Namanya orangutan.

 

Namanya sederhana, tetapi maknanya dalam. Dalam bahasa Melayu, “orang” berarti manusia, sedangkan “utan” berasal dari “hutan”. Jadi, orangutan kurang lebih berarti manusia hutan. Namanya saja sudah seperti saudara. Bedanya, saudara yang satu ini tinggal di pohon, sementara kita yang katanya lebih beradab sibuk membangun rumah sampai pohonnya ikut digusur.

 

Orangutan punya lengan panjang dan kuat, bulu cokelat kemerahan, wajah lebar, serta bantalan pipi pada jantan dewasa. Kalau pipinya sudah melebar, wajahnya seperti pejabat kerajaan hutan yang baru selesai dilantik. Ia juga punya kantong suara untuk menghasilkan suara keras. Tidak perlu mikrofon, tidak perlu pengeras suara.

Baca Juga  Bupati Cilacap Memeras Demi THR: Ketika Syahwat Politik Tak Kenal Puasa

 

Sebagian besar hidupnya di atas pohon. Makanannya buah, daun, dan biji-bijian. Hidupnya cenderung menyendiri. Tidak seperti manusia. Baru duduk di warung kopi lima menit, bisa tiga jam membicarakan orang yang bahkan tidak ikut minum kopi.

 

Yang lebih menarik, manusia dan orangutan punya hubungan evolusioner yang sangat dekat. Perbandingan genom menunjukkan kemiripan DNA sekitar 97 persen, meskipun angka itu bisa berbeda tergantung metode perbandingan. Kita memiliki nenek moyang bersama jutaan tahun lalu.

 

Jadi, kalau selama ini kita merasa orangutan mirip manusia, ternyata memang ada cerita panjang di belakangnya.

 

Orangutan juga bukan makhluk yang kerjanya hanya makan, tidur, lalu bergelantungan. Mereka mampu belajar, memecahkan masalah, menggunakan alat sederhana, membuat sarang, dan menunjukkan berbagai perilaku serta emosi.

 

Mereka memang tidak punya gedung pencakar langit. Tidak punya jalan tol. Tidak punya rapat Zoom. Apalagi grup WhatsApp keluarga yang isinya ucapan selamat pagi setiap hari. Tetapi kebutuhan hidup mereka sederhana.

Baca Juga  Pemberdayaan Masyarakat : Antara Program Pemerintah dan Kemandirian Masyarakat serta Peran LSM.

 

Nah, di sinilah manusia sebaiknya mulai bercermin.

 

Orangutan mengambil buah dari hutan untuk makan. Manusia mengambil hutan untuk berbagai kepentingan. Orangutan membuat sarang di pohon. Manusia kadang menebang pohonnya untuk membuat bangunan.

 

Orangutan menjaga rumahnya karena itulah tempat hidupnya. Manusia kadang merusak rumah sendiri, lalu bingung ketika banjir, longsor, udara panas, dan air bersih semakin sulit.

 

Di Indonesia ada tiga spesies orangutan: Sumatera, Kalimantan, dan Tapanuli. Mereka menghadapi ancaman kerusakan habitat, deforestasi, perburuan, dan perdagangan ilegal.

 

Padahal orangutan punya pekerjaan mulia: menyebarkan biji dan membantu regenerasi hutan. Kalau mau dibuat istilah warung kopi, orangutan itu petani hutan. Bedanya, ia tidak pernah minta pupuk bersubsidi, kendaraan dinas, atau rapat koordinasi.

Baca Juga  Seni Berburu THR: Dari Tunjangan Hari Raya Menjadi Tolong Hargai Relasi

 

Setiap 19 Agustus, kita memperingati Hari Orangutan Sedunia. Jangan sampai peringatannya hanya ramai di media sosial. Foto orangutan boleh banyak, tetapi hutannya jangan semakin sedikit.

 

Sebab menyelamatkan orangutan bukan sekadar menyelamatkan seekor satwa. Kita sedang menyelamatkan hutan, air, udara, dan masa depan anak cucu.

 

Bang, kita boleh bangga menjadi manusia karena punya teknologi dan peradaban. Tetapi kalau orangutan bisa menjaga rumahnya sementara manusia malah menghancurkannya, pertanyaannya sederhana: siapa sebenarnya yang lebih bijaksana?

 

Selamat Hari Orangutan Sedunia.

 

Lindungi hutannya, selamatkan orangutannya. Jangan sampai suatu hari nanti yang tersisa cuma “orang”, tetapi “utan”-nya sudah hilang.

 

Kopi pun akhirnya habis. Kita terdiam sebentar. Sebab ternyata yang pahit bukan kopinya.

 

Yang pahit adalah kenyataan bahwa saudara jauh kita sedang kehilangan rumahnya.