BERITA

Tolak MBG! Tolak KDMP!: Suara Mahasiswa Menguji Kemerdekaan

66
×

Tolak MBG! Tolak KDMP!: Suara Mahasiswa Menguji Kemerdekaan

Sebarkan artikel ini

TOMBAKOPINI: IAB

Bang, sebelum membaca tulisan ini, seruput dulu kopinya. Sebab cerita hari ini juga sedikit pahit—meski tidak sepahit kopi tanpa gula.

Saat, 17 Agustus, Istana begitu meriah. Bendera pusaka berkibar gagah, pasukan berbaris rapi, putra-putri terbaik bangsa menjalankan tugas, dan kita kembali mengenang perjuangan melawan Belanda serta Jepang. Ada upacara, ada seremoni, ada foto-foto, lagu perjuangan, dan wajah-wajah penuh semangat kemerdekaan.

Kemarin 18 Agustus 2026, suasananya berubah. Jakarta kembali ramai, tetapi bukan karena upacara. Mahasiswa turun ke jalan membawa megafon dan delapan tuntutan. BEM UI bersama Front Mahasiswa Nasional dan sejumlah aliansi kampus bergerak dari Depok menuju Jakarta.

Pakaian mereka hitam dan jaket kuning. Kalau dilihat sekilas, seperti rombongan hendak menghadiri pemakaman. Bedanya, yang hendak dimakamkan bukan manusia, melainkan sejumlah kebijakan pemerintah.

Baca Juga  Danramil 19 Trucuk Tinjau Proyek Fisik KDMP di Pundungsari, Pastikan Kualitas dan Progres Tepat Waktu

Delapan tuntutan pun dibawa. Mereka meminta dihentikannya “penjajahan negara atas rakyat sendiri”, pemberantasan KKN, reforma agraria sejati, penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, evaluasi total PSN, sekaligus penghentian MBG dan KDMP. Mereka juga menolak pemusatan kekuasaan dan pemangkasan Transfer ke Daerah, meminta status bencana nasional untuk Sumatra dan Flores, serta menolak represivitas TNI-Polri di ruang sipil dan meminta pembubaran YON TP.

Namun ada satu seruan yang paling rajin dipukul seperti gong:

“TOLAK MBG! TOLAK KDMP!”

Baru kemarin negara sibuk memperlihatkan wajah kemerdekaan dengan upacara megah. Hari ini mahasiswa justru bertanya: “Kemerdekaan macam apa yang sedang kita rayakan?”

Baca Juga  Benteng Umat di Era Digital, MUI Kota Bandung Gembleng 40 Ulama Muda Delegasi Kecamatan Lewat PKU Lanjutan

Mahasiswa bergerak menuju Bundaran HI. Tetapi demokrasi rupanya juga punya pagar. Di kawasan Sudirman, aparat menghadang massa dengan barikade. Mahasiswa meminta jalan dibuka. Adu mulut dan aksi saling dorong pun sempat terjadi.

“Buka jalannya! Kami cuma mau demo!”

Rakyat meminta ruang untuk menyampaikan suara, sementara ruangnya malah diberi pagar. Ini seperti disuruh masuk rumah, tetapi pintunya dikunci dari dalam.

Sampai sore, mahasiswa masih bertahan. Lagu sindiran berkumandang, orasi berjalan, tuntutan dibacakan.

Begitulah demokrasi. Kemarin kemerdekaan dikibarkan di tiang. Hari ini kemerdekaan diteriakkan di jalan.

Di Istana, kemerdekaan dipertontonkan. Di Sudirman, kemerdekaan dipertanyakan.

Baca Juga  Hj. Nani Astuti Resmi Gantikan Almarhum H. Fran Suharmaji, Keanggotaan DPRD Purworejo Kembali Lengkap

Mungkin memang begitu pekerjaan mahasiswa: bukan sekadar tepuk tangan ketika negara tampil gagah, tetapi mengingatkan ketika negara lupa bercermin. Tuntutan boleh diperdebatkan, kritik boleh dibantah, tetapi suara mahasiswa tetap bagian dari denyut republik.

Sebab kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan bangsa asing. Kemerdekaan juga berarti rakyat berani bertanya, pemerintah bersedia mendengar, dan demokrasi tidak berubah menjadi ruangan yang pintunya hanya bisa dibuka oleh mereka yang memegang kunci.

Kopi boleh pahit, Bang. Kritik juga boleh pedas. Jangan sampai rakyat sudah merdeka 81 tahun, tetapi untuk bersuara masih sibuk mencari pintu masuk demokrasi di negeri sendiri—di negeri yang katanya sudah merdeka