TECHNOLOGI & PENDIDIKAN

SEJARAH PENDIDIKAN DI KENDAL DITELUSURI DARI PESANTREN HINGGA SEKOLAH RAKYAT

67
×

SEJARAH PENDIDIKAN DI KENDAL DITELUSURI DARI PESANTREN HINGGA SEKOLAH RAKYAT

Sebarkan artikel ini

KENDAL, TOMBAKRAKYAT.com —Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Kendal mengadakan Gelar Wicara Sejarah Pendidikan di Kendal, Rabu (17/9/2026) di Aula Perpusda Kendal. Kegiatan ini masih dalam rangkaian Festival Literasi Kabupaten Kendal 2026.

Acara dibuka Sekretaris Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kendal, Andy Nur Karendra, S.STP., M.M. Narasumber Syamsul Maarif, M.Ag, pendiri Kendal Tempo Dulu. Moderator Dewi Prihartini Maghfiroh, S.S., Koordinator Bidang Filologi dan Sastra Lisan dari Pelataran Sastra Kaliwungu.

Dalam sambutannya, Andy menceritakan ketertarikannya pada sejarah bermula dari guru sejarahnya saat SMA. Guru tersebut menyampaikan materi secara runut dan tidak tekstual, melainkan melalui cerita yang menarik tanpa mengurangi esensi sejarah. Karena itu, ia berharap Disarpusda Kendal dapat terus bersinergi dengan Syamsul Maarif yang aktif membagikan informasi sejarah Kendal melalui kanal media sosial.

Andy juga menyayangkan perobohan dan pengalihfungsian bangunan bersejarah di Kendal. Salah satu contoh adalah Gedung SMP Negeri 1 Kendal yang merupakan bukti sejarah keberadaan ELS, sekolah setara sekolah dasar pada zaman kolonial. Menurutnya, bangunan bersejarah perlu dirawat dan dijaga.

Baca Juga  JK Soroti Penataan Kepala SMA/SMK di NTT: Empat Tahun Jabatan Harus Dievaluasi

Syamsul Maarif memaparkan bahwa sejarah pendidikan di Kendal dapat ditelusuri melalui lima jalur, yakni pendidikan Islam tradisional, sekolah pemerintah kolonial, pendidikan di wilayah Boja, peran organisasi perempuan, dan transisi ke Sekolah Rakyat pada masa awal Republik.

Pada periode sebelum sekolah modern berkembang, pendidikan berlangsung di langgar, masjid, pesantren, dan keluarga. Di Kendal, salah satu contoh tertua adalah Pondok Pesantren An-Nur Kersan, Pegandon, yang didirikan Kiai Ahmad Noer sekitar tahun 1884. Sumber Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mencatat An-Nur sebagai pesantren tua di Kendal.

Jejak sekolah formal kolonial mulai jelas pada abad ke-19. Laporan _Algemeen Verslag van den Staat van het Onderwijs in Nederlandsch-Indië_ tahun 1876 mencatat sekolah di Kendal dibuka pada 11 Juli 1876 dengan 27 murid. Fakta tersebut diperkuat pemberitaan _Bataviaasch Handelsblad_ pada 13 Oktober 1877 tentang Kendal Openbare Lagere School dan berita _De Locomotief_ 8 September 1865 tentang Subcommissie Onderwijs untuk wilayah Semarang, Kendal, Demak, dan Grobogan.

Baca Juga  Agus Flores Resmi Jadi Pengacara  Keluarga Korban Dugaan Bullying SD Santa Maria, Orang Tua Cabut Kuasa Hukum Sebelumnya

Pendidikan tidak hanya terpusat di kota Kendal. Di Boja pada 1916 ditemukan jejak Middelbare School. Dari lingkungan tersebut muncul tokoh seperti M. Ichsan ( walikota Semarang ) yang melanjutkan pendidikan ke HBS Semarang dan kemudian ke Belanda berbarengan dengan Moh.Hatta. Kisah ini menunjukkan mobilitas pendidikan masyarakat Kendal dari pendidikan lokal menuju kota besar bahkan luar negeri.

Memasuki masa Republik, pendidikan diperluas melalui organisasi perempuan. Bukti visual berupa foto Perwari Kendal bertuliskan 17-I-50 sampai 17-I-51 menunjukkan aktivitas organisasi tersebut pada periode awal kemerdekaan. Perwari memiliki perhatian pada pendidikan, sosial, ekonomi, sekolah kepandaian puteri, taman kanak-kanak, dan pemberantasan buta huruf.

Setelah kemerdekaan, sekolah kolonial secara bertahap digantikan Sekolah Rakyat. Beberapa sekolah dasar di Kendal saat ini memiliki sejarah yang berkaitan dengan Sekolah Rakyat, antara lain di wilayah Penaruban dan Weleri. Perubahan ini menandai peralihan orientasi pendidikan dari sistem kolonial menuju sistem pendidikan Republik yang memperluas akses masyarakat.

Baca Juga  Salam Om Pipit untuk Azel, Agus Flores Beri Dukungan Moral kepada Keluarga Korban Dugaan Bullying

Dalam wawancara, Syamsul Maarif menjelaskan bahwa akses pendidikan pada masa pesantren maupun kolonial masih terbatas pada kelompok yang memiliki kekayaan. Tradisi menulis di pesantren membutuhkan kertas yang saat itu langka dan mahal. Pada era politik etis, akses sekolah memang dibuka, tetapi anak pribumi sering terkendala karena harus membantu pertanian atau menikah di usia dini.

Pada sesi diskusi, David, mahasiswa Universitas Negeri Semarang, menyampaikan temuan bahwa Perwari telah ada di Sojomerto pada tahun 1949. Gerakan tersebut diduga tumbuh di lingkungan istri pegawai Perhutani karena wilayah itu merupakan area perkebunan. Diskusi semakin menarik ketika peserta berbagi pengalaman orang tua mereka yang menjadi saksi sejarah pendidikan pada masa penjajahan Belanda hingga Jepang.

Melalui kegiatan ini, sejarah pendidikan Kendal dibaca bukan sekadar sejarah gedung sekolah, melainkan sejarah ulama, guru, perempuan, organisasi masyarakat, dan lahirnya generasi terdidik dari Kendal.

Emma Wijayanti