TOMBAKOPINI: IAB
Bang, sebelum cerita dimulai, seruput dulu kopinya. Kali ini kita ngobrol soal sesuatu yang namanya pendek, cuma lima huruf, tetapi belakangan bikin banyak orang garuk-garuk kepala: DESIL
Desil bukan nama obat, bukan merek mi instan, apalagi menu baru di warung kopi. Desil adalah istilah statistik untuk menggambarkan posisi relatif kesejahteraan keluarga dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional atau DTSEN.
Secara sederhana, desil membagi penduduk menjadi sepuluh kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan. Desil 1 berada pada kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, lalu naik bertahap sampai Desil 10 yang berada pada tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.
Jadi, kalau ada yang bilang, “Saya Desil 4,” jangan langsung mengira orangnya punya nilai rapor ekonomi empat. Apalagi Desil 10 jangan pula dipanggil “Sultan”. Desil bukan gelar kehormatan. Ia hanya menunjukkan posisi relatif sebuah keluarga dibandingkan keluarga lainnya.
Kenapa istilah ini mendadak terkenal? Karena desil ikut menjadi salah satu acuan dalam menentukan sasaran perlindungan sosial, termasuk bantuan sosial. Maka wajar kalau mendengar kata desil, sebagian warga langsung bertanya, “Bang, saya masuk berapa? Masih dapat bansos atau tidak?”
Nah, di sinilah persoalannya. Desil bukan tiket otomatis menerima bantuan. Masuk DTSEN atau berada pada desil tertentu tidak serta-merta membuat bantuan masuk rekening. Setiap program mempunyai syarat, kriteria, verifikasi, dan mekanisme masing-masing.
Lalu, dari mana angka desil itu ditentukan? Bukan sekadar melihat gaji. Kondisi rumah, sumber air minum, listrik, energi memasak, kepemilikan aset, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, komposisi keluarga, hingga kondisi disabilitas dapat menjadi bagian dari gambaran kesejahteraan. Data tersebut kemudian diolah dengan pendekatan statistik, antara lain Proxy Means Test atau PMT.
Secara umum, Desil 1 dan 2 menjadi kelompok yang sangat penting dalam penentuan sasaran perlindungan sosial. Desil 3 dan 4 masih dapat menjadi sasaran sejumlah program, sementara Desil 5 masih mungkin menerima program tertentu sesuai ketentuan. Desil 6 sampai 10 umumnya memiliki prioritas bansos lebih rendah.
Tetapi ingat, Bang, desil bukan tato di dahi. Ia bisa berubah. Keluarga yang hari ini berada di Desil 4 bisa saja naik ketika kondisi ekonominya membaik. Sebaliknya, ketika usaha bangkrut, kehilangan pekerjaan, atau beban keluarga bertambah, kondisi kesejahteraannya bisa menurun. Hidup memang begitu. Kadang pendapatan naik, kadang pengeluaran yang naik duluan. Harga cabai saja kadang seperti punya cita-cita menjadi barang mewah.
Karena itu, kualitas dan pemutakhiran data sangat penting. Jangan sampai keluarga yang sudah mampu masih dianggap membutuhkan, sementara keluarga yang sedang kesusahan malah tidak terbaca dalam data.
Pada akhirnya, desil adalah peta, bukan tujuan perjalanan. Pemerintah membutuhkan peta untuk mengetahui siapa yang membutuhkan perhatian lebih dan kebijakan apa yang tepat. Tetapi peta harus akurat. Kalau petanya salah, perjalanan bisa tersesat. Kalau datanya keliru, bantuan pun berpotensi salah sasaran.
Jadi, Bang, jangan melihat desil sebagai cap kaya atau miskin. Di balik angka itu ada keluarga, kebutuhan, perjuangan, dan harapan.
Kopi boleh pahit. Hidup kadang juga begitu. Tetapi jangan sampai gara-gara salah membaca desil, kebijakan ikut pahit dan masyarakat yang membutuhkan malah cuma kebagian ampasnya.












