TOMBAKOPINI: IAB
Bang, seruput dulu secangkir kopi. Jangan buru-buru merasa paling jago soal kopi hanya karena setiap pagi sanggup menghabiskan dua gelas tanpa berkedip. Di dunia perkopian ada satu gelar yang terdengar sangar: Q Grader. Namanya saja sudah seperti pasukan elite. Seolah-olah mereka diterjunkan dari helikopter untuk menyelamatkan umat manusia dari kopi gosong dan seduhan yang rasanya seperti air bekas mencuci arang.
Padahal, mereka bukan pasukan khusus. Mereka adalah para ahli pencicip kopi berlisensi internasional. Tugasnya bukan mengejar penjahat, melainkan mengejar aroma melati, jeruk, persik, cokelat, sampai rasa-rasa yang kadang membuat orang awam mengernyit. “Ini kopi atau salad buah, Bang?”
Menjadi Quality Grader disingkat Q Grader jelas bukan perkara nongkrong di warung sambil berkata, “Mantap kali kopinya.” Oh, tidak semudah itu. Mereka harus mengikuti pelatihan berhari-hari, diuji kemampuan hidung, lidah, dan ingatan rasa. Harus mengenali cacat biji kopi, membedakan aroma yang nyaris serupa, lalu memberi nilai dari nol sampai seratus. Biayanya belasan juta rupiah. Setelah lulus pun belum bisa tidur tenang. Tiga tahun kemudian lisensinya harus diperbarui. Rupanya lidah juga ada masa kedaluwarsanya.
Di dunia kopi, Q Grader itu ibarat hakim agung. Sekali mengetuk palu dengan skor 84 atau 86, para pembeli dari Jepang, Amerika, Eropa, sampai Indonesia langsung paham kualitas kopi tersebut. Tidak perlu debat kusir. Angka menjadi bahasa internasional. Kopi berbicara dengan nilai, bukan dengan suara.
Tetapi begitu keluar dari ruang cupping, cerita berubah total.
Coba duduk di warung kopi pinggir jalan. Belum pernah saya mendengar pelanggan berkata, “Bang, acidity-nya kurang asam. Aftertaste-nya terlalu pendek. Body-nya kurang kompleks, atau skornya kurang 3.” Yang terdengar justru, “Tambah lagi satu gelas, Bang. Gorengan jangan pelit sambalnya.”
Di situlah letak kelucuannya. Kopi dengan skor 86 dipuja karena floral, citrus, manis, dan elegan. Para Q Grader tersenyum bangga. Sementara seorang bapak yang sejak muda minum kopi tubruk hanya menyeruput pelan, lalu berkata, “Kurang nendang. Terlalu sopan kopinya.”
Lidah manusia memang demokratis. Tidak bisa diperintah oleh sertifikat.
Persis seperti film. Ada film yang pulang membawa lemari penuh piala, tetapi bioskopnya sepi seperti rapat RT saat musim hujan. Sebaliknya, ada film yang dicibir para kritikus, tetapi penontonnya mengular sampai petugas parkir ikut kewalahan. Kopi juga begitu. Ada yang skornya tinggi tetapi pembelinya sedikit. Ada kopi kampung tanpa embel-embel sertifikat yang setiap pagi habis diseduh di ribuan warung karena rasanya pas di hati rakyat.
Lalu siapa yang benar?
Dua-duanya.
Q Grader menjaga standar mutu agar perdagangan kopi dunia tidak berubah menjadi lomba mengarang rasa. Sementara penikmat kopi menjaga tradisi bahwa secangkir kopi harus membawa kenangan, mengusir kantuk, menghangatkan obrolan, dan menemani menerima kenyataan hidup yang kadang lebih pahit daripada robusta.
Jadi, apakah Q Grader penting? Sangat penting. Tetapi apakah skor cupping adalah keputusan mutlak tentang kopi paling enak? Belum tentu.
Sebab, setinggi apa pun angka di lembar penilaian, vonis terakhir tetap berada di pengadilan paling adil sedunia: lidah penikmat kopi. Dan putusannya biasanya singkat, padat, tanpa banding.
“Enak, Bang. Tambah satu lagi.”












