OPINI & ANALISIS

Aliansi Masyarakat Sipil: Teror kepada Andrie Yunus Tidak Membuat Nyali Kami Ciut

254
×

Aliansi Masyarakat Sipil: Teror kepada Andrie Yunus Tidak Membuat Nyali Kami Ciut

Sebarkan artikel ini
Foto: Istimewa (TRAI)
Foto: Istimewa (TRAI)

Konferensi Pers Aliansi Masyarakat Sipil : 13/3/26

TOMBAKOPINI: Emhape

 

Di republik yang katanya demokratis ini, kritik sering kali diperlakukan seperti ancaman keamanan negara. Ketika suara masyarakat sipil terlalu keras, terlalu tajam, atau terlalu jujur, selalu saja ada cara-cara gelap untuk membuatnya pelan—atau kalau bisa, diam.

Penyiraman air keras terhadap aktivis HAM Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), bukan sekadar tindakan kriminal biasa. Ia adalah pesan. Pesan yang sangat klasik dalam politik kekuasaan: jangan terlalu berani mengusik mereka yang sedang nyaman di singgasana.

Ironisnya, peristiwa itu terjadi di bulan Ramadhan—bulan ketika para pemimpin negara gemar berbicara tentang moralitas, kesabaran, dan nilai kemanusiaan. Tetapi rupanya khutbah moral itu hanya berlaku di podium, tidak selalu di lorong-lorong gelap tempat teror sering dilahirkan.

Sehari setelah kejadian, sejumlah tokoh masyarakat sipil berkumpul dalam konferensi pers. Nama-nama yang hadir bukan orang baru dalam urusan menghadapi intimidasi kekuasaan, antara lain: Novel Baswedan, Fery Amsari, Bivitri Susanti, Usman Hamid, Dimas Bagus Arya, Muhammad Isnur, Almas Syafrina, Afifah bersama jaringan organisasi seperti Amnesty International Indonesia, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Indonesia Corruption Watch, Perempuan Mahardika dan jaringan masyarakat sipil lainya, mereka menyampaikan satu pesan yang seharusnya sederhana bagi negara yang waras: lindungi warga negara, jangan biarkan mereka diteror.

Baca Juga  Mengintip Dapur WTP: Mengapa Pejabat Rela Mati-Matian Memburunya?

Namun Indonesia bukan negara yang kekurangan ironi.

Di negeri ini, aktivis yang memperjuangkan korban kekerasan justru sering menjadi korban kekerasan berikutnya. Orang yang membela hak asasi manusia sering kali harus membela dirinya sendiri dari ancaman yang sama brutalnya.

Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, menyebut serangan itu sebagai serangan terhadap demokrasi. Pernyataan itu bukan retorika berlebihan. Dalam politik Indonesia, kekerasan terhadap aktivis selalu punya makna simbolik: yang ingin dihancurkan bukan hanya tubuh seseorang, tetapi keberanian masyarakat sipil.

Sejarah sudah memberikan pelajaran yang terlalu jelas untuk diabaikan. Kita pernah menyaksikan bagaimana aktivis HAM Munir Said Thalib dibunuh dalam perjalanan udara internasional. Dua dekade berlalu, kebenaran kasus itu masih berjalan tertatih-tatih, seperti seseorang yang dipaksa berjalan di lorong gelap tanpa lampu.

Baca Juga  Asap Rokok dan Suara Game di Tengah Pembahasan Nasib Rakyat

Karena itu, penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus mengingatkan perlakuan ywng sama terhadap Novel Baswedan, terasa seperti pengingat bahwa sejarah buruk itu belum benar-benar selesai.

Bagi organisasi seperti KontraS, intimidasi bukan barang baru. Mereka sudah lama hidup dengan risiko itu. Kantor diserang, penguntitan terjadi, ancaman datang silih berganti. Tetapi mereka tetap berdiri.

Yang menarik, dalam konferensi pers itu muncul juga analisis yang tidak kalah tajam. Usman Hamid menyebut kemungkinan adanya konflik di dalam lingkar kekuasaan politik—perkubuan yang saling berebut pengaruh dan sering kali menciptakan korban di luar lingkar mereka sendiri.

Jika analisis itu benar, maka kasus ini bahkan lebih mengerikan dari yang terlihat. Ia bukan hanya tentang teror terhadap aktivis, tetapi tentang politik kekuasaan yang sedang saling menggigit—sementara masyarakat sipil menjadi korban sampingan.

Tetapi ada satu kesalahan besar yang sering dilakukan oleh para pelaku teror: mereka selalu terlalu percaya pada kekuatan ketakutan.

Mereka lupa bahwa sejarah gerakan masyarakat sipil justru dipenuhi oleh orang-orang yang tidak pernah benar-benar tunduk pada rasa takut. Jika teror cukup untuk membungkam mereka, mungkin organisasi seperti KontraS sudah lama menjadi catatan kaki sejarah.

Baca Juga  Profit sharing Warung Madura 24 Jam: Jalan Sunyi Pengentasan Kemiskinan.

Faktanya tidak.

Aktivis HAM di negeri ini tahu risiko yang mereka hadapi. Mereka tahu bahwa membela korban berarti menantang kekuasaan. Dan menantang kekuasaan di republik yang sensitif terhadap kritik selalu berarti berjalan di jalan yang penuh ancaman.

Namun satu hal yang juga harus dipahami oleh para pelaku teror: keberanian tidak pernah bisa dihancurkan dengan air keras.

Air keras mungkin bisa merusak kulit seseorang.

Tetapi ia tidak pernah cukup kuat untuk melarutkan keberanian.

Justru sering terjadi sebaliknya.

Setiap teror yang gagal justru memperlihatkan satu hal yang memalukan bagi kekuasaan: betapa takutnya mereka terhadap suara masyarakat sipil.

Dan jika sebuah kekuasaan sudah mulai takut pada kritik, biasanya itu adalah tanda bahwa demokrasi sedang dipimpin oleh orang-orang yang terlalu rapuh untuk mendengar kebenaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *