OPINI & ANALISIS

“Literasi Bukan Sekadar Baca–Tulis: Ketika Interaksi Sosial Diabaikan”

484
×

“Literasi Bukan Sekadar Baca–Tulis: Ketika Interaksi Sosial Diabaikan”

Sebarkan artikel ini

Emma Wijayanti

Dalam banyak ruang diskusi tentang literasi, kita masih terjebak pada pemahaman paling dangkal: literasi identik dengan kemampuan membaca dan menulis. Seolah-olah manusia yang mampu mengeja huruf dan menandatangani absensi sudah otomatis menjadi insan literat.

Padahal dunia bergerak jauh melampaui itu; literasi hari ini berbicara tentang kemampuan memahami, memaknai, dan mengolah informasi dalam berbagai bentuk teks, tubuh, ruang, pengalaman hidup, bahkan keheningan.

Karena itulah, interaksi sosial adalah bagian paling nyata dari literasi.

Apa gunanya membaca seratus buku tentang empati jika kita gagal menghormati sesama manusia di depan mata?

Apa gunanya berbicara panjang lebar tentang pemberdayaan masyarakat jika kita bahkan tidak mampu mendengar suara orang yang ingin terlibat?

Baca Juga  Outing Class: Pendidikan Kontekstual atau Ujian Psikologis?

 

Pengalaman Kecil yang Mengungkap Luka Besar

Beberapa bulan lalu, saya ingin mengikuti sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh sebuahl embaga pemerintah daerah. Kegiatan itu didesain untuk memperkuat ekosistem literasi, dan syarat pesertanya disebutkan: pustakawan, akademisi, dan pegiat literasi. Saya bertanya dengan sederhana: Apakah pegiat literasi harus yang mengelola atau memiliki taman baca atau perpustakaan?

Pertanyaan ini saya ajukan bukan untuk memperdebatkan syarat, tetapi untuk memahami ruang definisi yang mereka pakai. Jawaban yang saya terima adalah: “Tunggu dulu, kami lihat pendaftar yang lain masuk dulu ya.”

Sederhana, tetapi menampar. Saya mendadak serasa sedang diukur berdasarkan fasilitas dan bentuk formal, bukan berdasarkan kerja nyata, pengalaman sosial, atau komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat.

Baca Juga  Internet Desa Terkunci di 9 Rumah Perangkat: Dana Desa, Pemerataan atau Previlese?

Seolah-olah literasi hanya sah bila memiliki rak buku dan papan nama. Padahal setiap hari saya belajar menulis, berdiskusi, berinteraksi dengan banyak komunitas; saya ikut bergerak dalam isu perempuan, ruang sosial, dan banyak percakapan nyata yang mempertemukan manusia dengan manusia. Tapi rupanya definisi formal lebih penting daripada denyut sosial.

Hari ini kita membutuhkan keberanian untuk memperluas makna literasi. Negara, lembaga, dan para pemegang kuasa definisi harus berhenti mengkotak-kotakkan siapa yang pantas dan tidak pantas disebut pegiat literasi.

Literasi bukan persoalan gedung, rak buku, atau sertifikat pelatihan; ia tumbuh dari perjumpaan manusia, dari tangan yang bekerja di lapangan, dari telinga yang mau mendengar,dari keberanian menyentuh realitas yang tidak selalu nyaman.

Baca Juga  Swasembada Meme di Era Prabowo: Dari Istana ke FYP, Pidato Presiden Menggerakan Industri Kreatif

Jika ruang literasi hanya ditempati oleh mereka yang berjarak, maka literasi akan berubah menjadi menara gading: tinggi, berwibawa, tetapi tak tersentuh rakyat yang ingin belajar dan tumbuh.

Karena itu saya percaya: Literasi adalah gerak sosial, bukan pajangan formal. Ia menemukan maknanya ketika manusia berjumpa dengan manusia bukan ketika nama dicatat dalam daftar peserta.

Pada akhirnya,

Melek huruf hanyalah awal.

Melek realitas adalah tujuan.

Dan tanpa interaksi sosial, literasi hanyalah ruang kosong yang penuh gema, tetapi tak punya suara.

Literasi tanpa interaksi sosial hanyalah museum yang ditutup kaca.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *